Kisah Pilu di Panti Asuhan Annida Qolbu (2-Habis)

Sanggup Makan Nasi Bertabur Garam demi Menghidupi Anak Yatim

Panti Asuhan Annida
PANTANG MENYERAH: Rohani merawat anak panti dengan penuh kasih sayang meskipun hidupnya dijejali banyak kesulitan

”Doakan saya agar suatu saat dapat terus membangun SMP di sini,” katanya.

Di tahun 2019, Yayasan Annida Qolbu telah mendapatkan akreditasi dengan kategori cukup baik dari Kementerian Sosial. Di tahun itu pula dia melakukan penataan dan melengkapi berkas persyaratan, mulai dari izin hingga pelaporan pajak yang wajib dilaporkan.

Sebelumnya, di tahun 2012 lalu, Yayasan Annida Qolbu pernah menerima penghargaan dari Dinas Sosial Provinsi Kalteng sebagai organisasi sosial berprestasi di tingkat provinsi.

Selama lebih dari 22 tahun Rohani rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan materinya mengasuh anak yatim. Rohani tentu saja merasakan lelah. Cobaan datang silih berganti menghampirinya. Usianya yang semakin menua membuatnya bergegas berpikir untuk mewujudkan mimpinya memajukan Yayasan Annida Qolbu.

”Saya sekarang sudah memiliki 10 staf yang membantu saya. Sekarang fisik saya sudah tidak sekuat dulu. Saya sudah mengidap diabetes sejak tahun 1995. Kadang-kadang kambuh. Kaki sebelah kiri saya sudah pernah dioperasi. Berjalan sudah tidak bisa segesit dulu. Tetapi, impian saya untuk membangun Yayasan Annida Qolbu masih terus saya upayakan. Saya ingin suatu saat ketika saya wafat, anak-anak yatim di sini tidak terlantar dan mampu meneruskan perjuangan saya untuk memajukan Yayasan Annida Qolbu yang mampu membawa manfaat bagi sejuta umat yang bernasib tak beruntung,” tandasnya. (***/ign)

Baca Juga :  Perdana, Bold Riders Muara Teweh Berbagi Kurban dengan Wadah Daun Pisang ke Pondok Pesantren

 

Pos terkait