Kotim Alokasikan Anggaran untuk 247.650 Benih Ikan

Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tahun ini mengalokasikan anggaran untuk pengadaan benih ikan sebanyak 247.650 benih
PANEN IKAN: Bupati Kotim Halikinnor didampingi Kadis Perikanan Kotim Ahmad Sarwo Oboi melakukan panen ikan patin di Kolam milik Pokdakan Alam Salju Sejahtera, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kamis (10/2). (YUNI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT – Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tahun ini mengalokasikan anggaran untuk pengadaan benih ikan sebanyak 247.650 benih yang terdiri dari lima jenis ikan yang berbeda-beda.

Rinciannya, ikan nila sebanyak 70.650 benih, patin 123.000 benih, lele 25.500 benih, bawal 22.500 ekor, dan ikan gurame 6.000 benih.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Perikanan Kotim Ahmad Sarwo Oboi mengatakan, kebutuhan benih sudah dianggarkan tahun 2022 dan masuk dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).

”Kebutuhan benih ikan itu didasari usulan 400 kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) di Kotim. Mereka mengajukan proposal ke Dinas Perikanan dan ditetapkan ada lima jenis ikan yang nantiya  dibagikan ke pokdakan di beberapa kecamatan.” Kata Ahmad Sarwo Oboi, Rabu (2/3).

“Untuk kecamatannya dan berapa pokdakan yang menerima benih ikan, saya belum pegang datanya. Sekarang masih proses pembibitan, kemungkinan bulan depan mulai penaburan benih ikan,” tambahnya.

Baca Juga :  Hasil Laut Perairan Kumai Pertahun Mencapai Ratusan Ton

Oboi mengatakan, tahun pihaknya akan melakukan penaburan benih ikan jelawat di Kampung Budidaya Ikan di Kelurahan Tanah Mas.

”Di Tanah Mas ada danau. Nanti penaburan benih ikan Jelawat disebarkan secara liar di danau itu,” katanya.

Menurutnya, budidaya ikan jelawat masih terus dikembangkan dan menjadi perhatian serius. Pasalnya, ikan jelawat membutuhkan perawatan dan perlakuan khusus.

”Sampai saat ini Kotim belum dapat dikatakan berhasil mengembangkan budidaya ikan jelawat, karena perlu perhatian khusus. Mulai dari perawatan, pemijahan, pembibitan, sampai panen saja membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Waktu masa panennya memang paling lama dari ikan lainnya. Di kantor ada sekitar 2.000 ekor jelawat yang masih terus dilakukan perawatan. Ukurannya masih kecil. Maka itu, Dinas Perikanan terus mengembangkan budidaya ikan jelawat, karena ikan ini bagian dari ikon Sampit,” ujarnya.

Oboi menambahkan, baru-baru ini pihaknya telah menetapkan Desa Kandan, Kecamatan Kotabesi sebagai Kampung Budidaya Ikan Lokal, salah satunya termasuk Ikan Jelawat.

”Kami memilih Desa Kandan sebagai Kampung Budidaya Ikan Lokal. Semua jenis ikan lokal dikembangkan termasuk Jelawat,” tandasnya. (hgn/ign)

Pos terkait