Memori Ketertindasan dan Perjuangan dalam Karya Sastra Eksil

 

budaya

Dampak dari meletusnya prahara 1965 membelenggu dan mengganggu psikis atau trauma para korbannya, tidak hanya yang terdampar di luar negeri karena paspor dicabut, tetapi juga bagi keluarga mereka yang berada di Indonesia. Kebanyakan dari mereka tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi. Simpang siur berita yang ada di dalam dan luar negeri membuat mereka kebingungan.

Selain gambaran pada peristiwa dan suasana yang terjadi pada masa tertentu, cerpen ini menghadirkan tokoh yang memiliki analog atau menjadi representasi dari para eksil di luar negeri. Cerpen “Tanah Air” ini memang hanya fokus pada satu keluarga eksil yang berada di Belanda, tetapi cerpen ini memiliki sentuhan universal yang dapat dihubungkan dengan kisah keluarga eksil lainnya. Keaslian sejarah dalam konteks ini adalah penghadiran ruang dalam bentuk simbolisasi para tokoh eksil yang berkelana dari satu negara ke negara lain yang bisa menjadi ruang aman bagi mereka. Para eksil Indonesia yang semula terdampar di negara-negara blok komunis, ada yang memilih menyelamatkan diri ke negara Eropa lainnya, seperti Belanda. Cerpen ini menunjukkan sisi keaslian sejarah dari perasaan, suasana, dan nasib yang dialami para eksil korban tragedi 1965.

Para eksil tidak lagi memiliki kebebasan secara mutlak dalam berwarga negara, haknya pun dibatasi sehingga mereka tidak bisa berkumpul dengan keluarga, bahkan menginjakkan kaki ke tanah airnya. Komunikasi pada zaman itu yang sangat terbatas, hanya melalui surat menyurat, waktu tempuh untuk surat itu sampai kepada penerima yang begitu lama mengakibatkan tekanan batin, kecemasan, dan prasangka pada keluarganya. Lama-lama kecemasan itu mengganggu psikologis para korban. Suasana zaman dapat dilihat pada kutipan berikut: ““Setengah jam lagi. Begitu matahari terbit, mereka akan datang membebaskan kita,” desisnya dengan mata yang tetap saja liar, dan sepertinya aku entah di mana, tidak berada di seberang bahunya. Siapa yang akan membebaskannya? Aku tak tahu. Dan aku tak pernah mau bertanya. Tetapi yang jelas janji akan pembebasan selepas subuh itulah yang kelihatan membuat penderitaannya lebih dalam (Aleida, 2016)”.

Pos terkait