Keaslian sejarah yang digambarkan atau dihadirkan pada cerpen “Tanah Air” ini menunjukkan nasib yang berupa tekanan psikologis, kekecewaan, hingga tanpa harapan dari korban prahara 1965. Tokoh mengalami beban psikologis berat akibat prahara itu. Cerpen ini menampilkan sisi keaslian sejarah dari perspektif korban yang disimboliskan. Selain itu, para keluarga korban sebenarnya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tetapi mereka mendapatkan imbas yang disebabkan salah satu anggota keluarganya yang tidak bisa pulang ke Indonesia karena dicap bertentangan ideologi dengan pemerintahan saat itu.
Perasaan dan kerinduan tokoh Ang terhadap tanah air dan kampung halaman beserta keluarga dikemukakan dalam tata dramatik yang psikologis di dalam cerpen ini. Simbolisasi pada tokoh dituliskan pada kutipan berikut: ““Ciumlah … Ini tanah Indonesia. Apa pun yang akan terjadi dia akan mempertautkan kita,” katanya lamat-lamat seraya memegangi tanganku, merebahkan kepala di bahuku. Semacam permintaan maaf atas tuduhan yang baru saja dia timpakan padaku. Katanya, tanah itu dia bawa ketika meninggalkan Jakarta menuju Kairo dan kandas di Peking (Aleida, 2016). …. Aku terjerembap di sampingnya. Jari-jemarinya masih mengepal tanah merah berbalut kain putih. Di dekatnya ada secarik kertas yang berkata: Tanah Air Indonesia (Aleida, 2016)”.
Martin sebagai pengarang cerpen “Tanah Air” memberikan visualisasi sejarah yang terlupakan terkait eksil. Ia mengangkat sejarah Indonesia yang hampir tidak pernah dituliskan. Melalui narasi sejarah yang ditampilkan dalam cerpen ini, ia menggambarkan kehidupan warga negara Indonesia yang terdampak meledaknya peristiwa 1965 dari sisi korban dan keluarganya. Para korban yang ditulis dalam cerpen ini adalah mereka yang tidak mengetahui atau terlibat langsung dalam peristiwa 1965, tetapi terkena akibatnya. Secara politis dan ideologis, korban-korban itu adalah kaum yang dianggap berseberangan ideologi dengan pemerintahan Indonesia yang saat itu berkuasa. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan hidup dan terkena tekanan-tekanan mental lain. Mereka menjadi tidak punya kewarganegaraan atau stateless.







