Memori Ketertindasan dan Perjuangan dalam Karya Sastra Eksil

 

budaya

Martin Aleida merupakan seorang jurnalis yang menjadi salah satu orang yang terkait dengan prahara politik 1965. Ia telah melahirkan satu buku monumental berjudul Tanah Air yang Hilang: Wawancara dengan Orang-orang Klayaban di Eropa. Buku ini bukan merupakan buku fiksi, melainkan karya jurnalistik. Namun, ada satu tulisan yang unik di dalam buku tersebut, yakni cerpen berjudul “Tanah Air”—satu-satunya cerpen di antara 18 tulisan jurnalisme hasil wawancara Martin Aleida dengan para eksil di luar negeri.

Buku ini mengumpulkan cerita-cerita orang Indonesia yang terpaksa kehilangan tanah air dan berpindah dari satu negara ke negara lain untuk mencari suaka. Mereka berkelana di daratan yang jauh, menyeberangi berbagai batas negara dalam ketakutan, tanpa paspor, untuk menyelamatkan diri dari rezim yang kejam. Karya Martin yang berupa cerpen “Tanah Air” ini mengambil tema kegetiran Indonesia tahun 1965 dan kisah sebuah keluarga eksil. Karya ini menyuarakan kisah korban tragedi 1965 dan sekaligus memberi pemaknaan ulang terhadap peristiwa sejarah kelam Indonesia.

Karya sastra adalah manifestasi kegelisahan atas realitas. Realitas ini adalah realitas dari pengarang atau lingkungan sekitarnya. Martin mengambil tema untuk tulisan-tulisannya yang dekat dengan dirinya atau bahkan yang dia alami sendiri, sebab tidak ada sastra yang lahir dari ruang hampa. Dalam kaitannya dengan realitas ini, sastra menjadi penanda zaman. Tahun 1965 menjadi penanda zaman terbitnya Romantisme Tahun Kekerasan dari Martin.

Tulisan-tulisan Martin memperlihatkan bahwa pogrom 1965 adalah peristiwa yang harus selalu diangkat dan dikabarkan ke permukaan sehingga diketahui khalayak. Dalam hal ini, sastra dapat berperan sebagai upaya pengabaran akan pengalaman korban 1965.

Bentuk sastra semacam ini bukan untuk menghamparkan rasa nelangsa bagi pembaca, tetapi presentasi sastra seperti ini adalah bagian dari pengungkapan satu kebenaran mengenai sikap dalam berbangsa dan bernegara. Tindakan yang keji dan melanggar hak asasi manusia patut dianggap sebagai tindakan yang mencederai landasan ideologi bangsa sendiri. Sikap ini yang ditampakkan oleh Martin pada tulisannya, baik tulisan jurnalistik atau sastra. Martin menjadikan tulisannya sebagai medium untuk membela korban.

Pos terkait