Memori Ketertindasan dan Perjuangan dalam Karya Sastra Eksil

 

budaya

Para tokoh seperti Ang, An Sui, dan Han merupakan gambaran kenangan pada peristiwa kelam yang melekat pada eksil di luar negeri. Penggambaran kesalahpahaman karena putusnya komunikasi yang dialami suami, istri, dan anak dari keluarga eksil, telah mengonstruksi penceritaan lintas generasi. Penilaian yang tidak tepat karena sejarah yang tidak pernah ditulis, melahirkan justifikasi dan stigma yang salah kaprah. Gambaran-gambaran yang dilahirkan oleh Martin dalam cerpen ini sesungguhnya dapat dipahami sebagai suatu realitas sejarah yang terlupakan. Realitas sejarah yang terlupakan karena tidak pernah disampaikan atau dituliskan ini membuat berbagai prasangka, asumsi, dan kesalahpahaman pada korban atau keluarganya. Hal ini diilustrasikan oleh tokoh yang bernama Han, anak dari Ang, yang mengalami salah paham terhadap ayahnya: “Ketika dia masih duduk di sekolah dasar, dengan susah payah aku melerai kemarahannya terhadap ayah yang dia tuduh tidak bertanggung jawab, meninggalkannya. Menyia-nyiakan ibunya. Bersenang-senang di luar negeri sana. Di meja makan. Menjelang tidur. Terkadang saat sedang belajar, kalau momennya kena, kukatakan bahwa ayahnya tidak bersalah. Tak bisa pulang membesarkan dan menyekolahkannya bukan pilihannya. Susah payah aku menjelaskan kepadanya, bahwa ada kekuasaan yang begitu buruk rupanya, sehingga sampai hati memisahkan seorang anak tunggal dari ayahnya (Aleida, 2016)”.

Hal menarik lainnya dari keaslian sejarah yang ditampilkan dalam cerpen adalah nasib keluarga korban akibat prahara 1965. Baik korban dan keluarga korban, seperti istri dan anaknya mengalami kesulitan hidup, mendapat fitnah serta tuduhan, dan sebenarnya mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan keluarganya yang ada di tempat jauh. Hal ini diilustrasikan oleh para tokoh di dalam cerita yang mengalami fitnah dari teman-teman Ang. Berikut ini adalah salah satu penyiksaan yang menyerang psikologis tokoh: “Malam kedua, ulu hatiku terasa seperti dia tonjok, ketika dia katakan ada kabar yang sampai ke kupingnya, bahwa aku sering pergi dengan lelaki (Aleida, 2016). Han membuat dadaku mongkok. Setelah dewasa, dia berubah dalam bersikap terhadap papinya. Suamiku yang tetap tumpul. Terkungkung dalam jiwa yang remuk. Setelah putra tunggal kami itu kembali ke Australia, ketegangan yang dialami suamiku bukannya mengendur. Bercakap-cakap di taman, di meja makan, di tempat tidur, dia tak habis-habisnya mengutuk dirinya sendiri. Karena ucapan anaknya yang masih kecil, bahwa dia bukan seorang ayah yang bertanggung jawab (Aleida, 2016). “Sudahlah. Dengarlah baik-baik. Tuduhan anakmu itu ‘kan kau dengar dari kawan-kawan di Tiongkok ‘kan? Sama seperti kau juga dengar bahwa aku menjual diri kepada lelaki lain. Aku tak memedulikan omong kosong orang. …” (Aleida, 2016)”.

Pos terkait