Memori Ketertindasan dan Perjuangan dalam Karya Sastra Eksil

 

budaya

Penggambaran narasi sejarah dalam cerpen ini cenderung bersifat psikologis, yakni pengungkapan perasaan batin dan kejiwaan pada korban politik tragedi 1965 yang bertahan hidup di negeri asing. Secara umum, keaslian sejarah dalam teks ini ditunjukkan dengan perasaan batin, rasa traumatis, dan gangguan psikologis korban tragedi 1965. Keaslian sejarah dibuktikan dengan fakta mentalitas bahwa mereka adalah korban tragedi 1965 yang pada hakikatnya tidak memahami situasi yang sebenarnya terjadi. Selain itu, narasi sejarah ini bisa menjadi upaya untuk memulihkan nama baik korban, melakukan pembelaan atas nasib korban, serta menyambung mata rantai sejarah dan sastra eksil di Indonesia. ***

 

* Nada Avnarama (nadaputri823@gmail.com), bekerja pada Balai Bahasa Kalteng.  

Pos terkait