Menggali Kisah Pendirian Makam Buyut Datu Kalampayan di Pantai Ujung Pandaran

Kerap Dikunjungi Wisatawan, Terancam Tenggelam Tersapu Ombak

Pantai Ujung Pandaran,Makam Buyut Datu Kalampayan di Pantai Ujung Pandaran,pantai ujung pandaran kalimantan tengah,pantai ujung pandaran kabupaten kotawaringin timur kalimantan tengah,pantai ujung pandaran terbaru,penginapan pantai ujung pandaran,misteri pantai ujung pandaran,radar sampit hari ini,radar sampit hari ini 2022,radar sampit 2022,radar sampit kriminal hari ini
TERANCAM ABRASI: Kubah makam Buyut Datu Kalampayan di Pantai Ujung Pandaran yang kerap dikunjungi wisatawan. (IST/RADAR SAMPIT)

RadarSampit.com – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memiliki situs sejarah berusia lebih satu abad, yakni makam Buyut Datu Kalampayan. Makam yang berada di kubah di Pantai Ujung Pandaran itu kerap dikunjungi wisatawan. Kini, bangunan kubah terancam tenggelam akibat hantaman ombak.

HENY, Sampit

Bacaan Lainnya

Sudah satu dekade lamanya seorang pria tua penunggu makam merawat bangunan kubah di Pantai Ujung Pandaran, Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Pria berusia 73 tahun itu bernama Sapran. Dia tinggal bersama istri dan anaknya untuk merawat bangunan kubah yang kini memprihatinkan.

Menurut informasi yang diketahuinya, bangunan kubah berukuran sekitar 8 x 8 meter tersebut dibangun para ulama secara swadaya. Berdasarkan secarik kertas yang dilaminating di dinding bangunan kubah tersebut tertulis, KH Zaini Gani pernah berkunjung pada 9 November 1993 di Rumah HM Hatta, sekaligus meresmikan bangunan Kubah Makam Syekh Abu Hamid Al Banjari.

Makam tersebut terletak di tepi Pantai Ujung Pandaran. Untuk menuju lokasi, dari Dermaga Ujung Pandaran berjarak sekitar 2 km sampai ujung area perkampungan warga pesisir pantai. Di sana terdapat dermaga tempat kelotok bersandar.

Dua tahun lalu, untuk menuju makam tersebut dapat dilalui menggunakan jalur darat dengan arah berkeliling. Namun, kini dataran sudah tertutup air laut, sehingga wisatawan yang ingin berkunjung ke lokasi makam bersejarah itu perlu menggunakan perahu dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Selama di atas perahu, wisatawan harus siap menghadapi ombak yang mengempas lautan setiap detik. Berdasarkan informasi warga setempat, ombak tersebut termasuk ganas.

”Dua tahun lalu masih bisa dilewati dengan berjalan kaki atau dengan berkendara. Sekarang sudah tertutup air laut,” kata Sapran, pria yang memiliki tujuh orang anak ini.

Konon, ceritanya, Syekh Abu Hamid, sosok yang berada dalam liang lahat makam itu merupakan perantauan yang berangkat dari Pontianak menuju Pagatan, Kabupaten Katingan menggunakan perahu. Namun, di tengah perjalanan, di lautan terjadi angin kencang yang membuat perahunya terbalik. Syekh Abu Hamid ditemukan terdampar di Pantai Ujung Pandaran Sampit.

”Beliau sakit dan tidak lama meninggal dunia di sana (Ujung Pandaran),” katanya.

Pantauan Radar Sampit, pada dinding bangunan kubah tertempel secarik kertas putih yang dilaminating. Dalam kertas tersebut bertuliskan, keterkaitan hubungan antara Abu Hamid dengan para ulama HM Irsyad Zain yang ditandatangani di Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan pada 31 Mei 1992.

Tak jauh dari bangunan kubah terdapat musala yang sudah lebih dulu hancur. Hanya menyisakan puing bangunan. ”Musala ini sudah hancur lebih dulu sekitar lima bulan lalu dan ada juga pondok bangunan yang sudah hancur. Saya minta izin ke pemerintah desa untuk bangun lagi sebagai tempat saya tinggal,” ungkap Sapran yang juga memiliki kandang ternak ayam dan bebek di sekitar pondoknya.

Menurutnya, usia makam diperkirakan sudah lebih dari 100 tahun. Bahkan, makam ini kerap dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah, seperti Kaltim, Kalsel, bahkan masyarakat dari Jawa.

”Makam ini sudah lama ada. Dulu letaknya tidak di sini dan pernah dipindah dan terakhir dipindah ke tepian laut. Sampai sekarang ada saja masyarakat yang berziarah datang ke makam,” kata pria asli Ujung Pandaran ini.

Banyaknya wisatawan yang berkunjung melakukan ziarah membuat Pemkab Kotim prihatin untuk menyelamatkan dan mempertahankan bangunan kubah yang menjadi salah satu andalan wisata di Kotim.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *