Pembunuhan di Pangkalan Bun Park Bikin Warga Trauma

punk
ANAK PUNK: Delapan anak punk dengan dua kasus yang berbeda pembunuhan dan penganiayaan hingga korban luka berat saat dihadirkan dalam pers release di Mapolres Kobar belum lama ini. (SULISTYO/RADAR PANGKALAN BUN)

PANGKALAN BUN, radarsampit.com – Peristiwa pengeroyokan oleh enam anak punk yang berujung tewasnya satu orang di gazebo taman Pangkalan Bun Pak, Bundaran Pancasila, menimbulkan kekhawatiran warga.

Warga memilih tempat rekreasi lain yang lebih lebih aman untuk keluarga. Saat ini Pangkalan Bun Park tampak sepi dari hari-hari biasanya.

Bacaan Lainnya

Warga Kota Pangkalan Bun, Rachmawati, menyampaikan bahwa kasus pembunuhan dan pembacokan di Pangkalan Bun Park membuat warga lebih memilih tempat rekreasi lain.

“Fenomena keberadaan anak punk di kawasan Pangkalan Bun Park itu bukan hal yang baru, sudah lama kawasan itu menjadi tempat transit, pesta miras, dan aktivitas negatif lainnya,” ujarnya.

Beberapa kali keberadaan kelompok berpenampilan nyentrik dan penuh tato itu dilaporkan oleh masyarakat ke Satpol PP Kobar karena meresahkan.

Kapolres Kobar AKBP Yusfandi Usman menegaskan, demi untuk menjaga kamtibmas, kepolisian akan berkoordinasi dengan Satpol PP dan TNI untuk melakukan patroli bersama.

Baca Juga :  Pemkab Bakal Larang Bangun Bengkel di Jalur Perkotaan

“Kita akan tingkatkan patroli bersama dengan unsur TNI dan Satpol PP untuk bersama menjaga kekondusifan daerah demi menciptakan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat,” tegasnya.

Kasatpol PP Kobar Majerum Purni mengatakan, saat ini tim patroli cipta kondisi dari Satpol PP Kobar tetap melaksanakan patroli siang dan malam demi keamanan.

“Satpol PP juga melaksanakan patroli gabungan bersama TNI dan Polri,” imbuhnya.

Ia ,menyampaikan berkumpulnya anak punk di gazebo Pangkalan Bun Park karena di tempat tersebut terdapat fasilitas wifi dan listrik sehingga dianggap menjadi tempat yang nyaman untuk anak punk.

Satpol PP Kobar sudah sering mengamankan anak punk dan dipulangkan ke tempat asalnya, yang rata-rata warga Kotim dan Palangka Raya.

“Kita tetap tegas terhadap mereka selama ini karena kehadiran mereka membuat masyarakat tidak nyaman dengan penampilan mereka seperti itu, setelah kejadian kawasan itu saat ini lebih sepi dari masyarakat,” pungkasnya. (tyo/yit)

 



Pos terkait