Polri Tukar Guling TPPU dengan Penangkapan Fredy Pratama

Gembong Narkoba Fredy Pratama
Gembong Narkoba Fredy Pratama

JAKARTA, radarsampit.com – Sudah delapan bulan bandar narkotika internasional asal Indonesia Fredy Pratama dalam pengejaran. Hingga kini Fredy Pratama masih melenggang bebas, bahkan terus menyelundupkan narkotika. Bareskrim berhasil mendorong kepolisian Thailand membentuk tim pengejaran Fredy.

Sepak terjang bandar narkotika internasional Fredy Pratama pertama kali diketahui publik pada 12 September 2023 lalu. Saat itu Kabareskrim Polri Komjen Wahyu Widada memimpin operasi pengungkapan jaringan Fredy Pratama. 60 kaki tangan bandar ditangkap beserta aset dan uang senilai Rp 432 miliar.

Bacaan Lainnya

Namun, semua langkah kepolisian itu ternyata tidak menghentikan jaringan bisnis haram Fredy. Pada 13 Maret 2024,  kembali ditangkap empat orang bandar narkotika di Jawa Tengah.

”Ini jaringan baru yang dibentuk Fredy Pratama,” papar Direktur Tindak Pidana Narkotika (Dirtipid Narkotika) Bareskrim Brigjen Mukti Juharsa saat itu.

Jaringan ini dipimpin perempuan dengan inisial L. Disebut bahwa L ini berkomunikasi secara langsung dengan Fredy Pratama. ”Fredy merekrut L untuk dijadikan aktor intelektual di Indonesia. Salah satu tugasnya melakukan rekrutmen jaringan narkoba,” tuturnya.

Baca Juga :  APES!!! Diberhentikan untuk Vaksin, Bandar Sabu malah Terjaring gara-gara Lakukan Ini

Karena itu penangkapan terhadap Fredy Pratama begitu penting. Bila Fredy bisa ditangkap, setidaknya pasokan narkotika sebanyak 6 ton per tahun ke Indonesia dapat dihentikan. Freddy diketahui mampu memasok narkotika sebanyak 500 kilogram per bulannya.

Bahkan, barang bukti narkotika berupa sabu yang berhasil disita  dari jaringan Fredy telah mencapai 10,2 ton. Mukti mengatakan, hambatan utama dalam mengejar Fredy adalah wilayah yuridiksi.

Bandar asal Pontianak itu berada di Thailand, yang menjadi markasnya menjalankan bisnis haram bersama mertuanya. Diketahui mertua Fredy ini kartel narkotika di Thailand. ”Dia berada di tengah hutan di Thailand,” terangnya kepada Jawa Pos Jumat lalu (17/5/2024)

Karena itulah, lanjutnya, upaya penangkapan terhadap Fredy hanya bisa dilakukan dengan dukungan penuh kepolisian Thailand. Dalam rangka itulah, Mukti bertemu dengan petinggi kepolisian Thailand pada April 2024 lalu di Langkawi, Malaysia. ”Komunikasi dengan kepolisian Thailand ini menghasilkan keputusan penting, ujarnya.



Pos terkait