RTH Diprotes Warga Dekat Depo Sampah, Tiga Lokasi Bakal Dilengkapi Air Mancur

pembangunan ruang terbuka hijau sampit
BELUM SELESAI: Salah satu RTH yang dibangun Pemkab Kotim di Jalan Tidar, Sampit. (HENY/RADAR SAMPIT)

Pemkab Kotim membangun ruang terbuka hijau (RTH) di tiga lokasi, yakni Jalan Pramuka, Tidar, dan Cristopel Mihing. Lokasi itu dibangun bertahap dan ditarget selesai 2024.

HENY-radarsampit.com, Sampit

Bacaan Lainnya

Pembangunan RTH di Kota Sampit menuai kritik dari masyarakat. Salah satunya RTH yang dibangun di Jalan Tidar dan Cristopel Mihing. Lokasi yang sangat berdekatan dengan depo sampah terkadang menimbulkan aroma tak sedap.

Padahal, masyarakat membayangkan RTH dapat dijadikan taman rekreasi bagi masyarakat yang ingin menikmati waktu pagi dan sore untuk berolahraga ataupun sekadar bersantai menikmati suasana sore hari.

Jaka, salah seorang warga mempertanyakan konsep bangunan RTH di Jalan Tidar yang pada bagian tengahnya dibuat cekung dan menimbulkan genangan air bak seperti danau buatan.

”Itu konsep ruang terbuka hijaunya bagaimana? Kita lihat itu ada genangan malah jadi danau, apa memang sengaja dibuat danau atau ada rencana lain?” kata Jaka.

Trisna, warga setempat yang tinggal tak jauh dari RTH Tidar juga merasa lokasi RTH di Jalan Tidar kurang tepat, karena berada berdekatan dengan depo sampah. ”Belum ada RTH saja, aroma sampah itu sudah tercium sampai ke rumah saya. Apalagi kalau sampah menumpuk lambat diambil petugas kebersihan, aroma sampah semakin bau,” ujarnya.

”Sekarang, di depan depo dibangun RTH, lokasinya sudah tepat, tapi aroma sampahnya yang buat kita enggak nyaman nongkrong lama-lama di sana. Bukannya RTH untuk fasilitas publik yang tujuannya untuk dinikmati dan dikunjungi masyarakat untuk bersantai dan berolahraga, sayang sekali lokasinya yang berdekatan dengan depo sampah,” ujarnya.

RTH di Jalan Pramuka, tepatnya di belakang Kantor Pemkab Kotim juga tak luput dari kritikan masyarakat. Nono yang sehari-hari melewati Jalan Pramuka bingung dengan konsep RTH di Jalan Pramuka yang dibuat seperti jembatan tinggi dan tak terlihat pembangunannya karena tertutup seng.

”Dulu ada pohon-pohon di situ yang buat rimbun dan sejuk. Sebagian pohonnya malah ditebang. Dibangun jembatan tinggi katanya buat jalur jogging, kenapa tinggi sekali. Kita yang lewat tiap hari bingung dengan konsep RTHnya mau dibuat seperti apa,” kata Nono.

Menanggapi rasa penasaran masyarakat, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim Machmoer mengatakan, RTH sudah mulai dibangun pada 2022 dan ditarget selesai 2024. Pada tahap satu, tiga lokasi RTH tersebut dikerjakan sesuai anggaran yang tersedia.

”Pembangunan tahap 1 tahun 2022 di tiga lokasi RTH Jalan Pramuka, Tidar, dan Cristopel Mihing masih 30 persen. Bangunan fisik secara nyata memang belum terlihat, karena pembangunan dikerjakan bertahap sampai tahun 2024,” kata Machmoer, Rabu (8/2).

Tahun ini, lanjutnya, Pemkab Kotim melalui DLH Kotim akan melanjutkan pembangunan RTH di Jalan Pramuka dan Cristopel Mihing dengan anggaran masing-masing sekitar Rp 1 miliar yang bersumber dari dana bagi hasil dana reboisasi (DBH-DR).

”Dua RTH di Jalan Pramuka dan Cristopel Mihing akan dilanjutkan dan masih dalam tahap lelang. Pembangunan akan mulai dilanjutkan bulan depan kalau tidak awal atau pertenghan Maret 2023,” ujarnya.

Sementara itu, untuk RTH di Jalan Tidar tak dilanjutkan karena anggaran DBH-DR belum mencukupi. Pemkab Kotim hanya akan menganggarkan Rp150 juta menggunakan dana APBD untuk pemasangan penerangan lampu diempat titik.

”Tahun lalu, pembangunan RTH ditiga lokasi menelan anggaran yang bersumber dari DBH-DR sekitar Rp4,8 miliar. Untuk setiap RTH itu dibutuhkan anggaran Rp7 miliar, dikarenakan anggaran yang tersedia terbatas, pembangunan dikerjakan bertahap,” ujarnya.

Pos terkait