Sembilan Tahun Menuju Akhir Epidemi AIDS 2030

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus mendorong program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS
FOTO BERSAMA: Jajaran Pemkab Kotim, KPAD Kotim, dokter RSUD dr Murjani Sampit berfoto berasa Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) usai penyerahan bantuan pada acara Peringatan Hari AIDS Sedunia 2021, Rabu (1/12). (YUNI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus mendorong program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Selain itu, fokus  menurunkan kasus HIV baru, menurunkan angka kematian akibat AIDS, dan menurunkan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kotim pada Rabu (1/12) memperingati Hari Aids sedunia ke-33. Menurut Bupati Kotim Halikinnor yang diwakili Staf Ahli Bupati Kotim Najmi Fuadi mengatakan, peringatan tersebut merupakan momentum sembilan tahun menuju akhir epidemi AIDS 2030.

Bacaan Lainnya

”Diharapkan dalam rentang waktu tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, sehingga berdampak bagi kesehatan dan kesejahtraan masyarakat,” sebutnya.

Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, penguatan kolaborasi harus dilakukan dengan semua pihak. Termasuk pemerintah pusat, daerah, swasta, dan seluruh masyarakat, sehingga upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS bisa terselesaikan dan target ending HIV AIDS tahun 2030 bisa tercapai.

”Upaya lainnya, yakni dengan memfasilitasi forum strategis lintas sektor dan masyarakat untuk berbagi pengalaman terbaik program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Terakhir, penguatan komitmen pemangku kebijakan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS secara komprehensif dan berkelanjutan, sehingga dengan adanya peningkatan keterlibatan semua pihak, turut mengakhiri epidemi HIV AIDS pada tahun 2030 dapat terwujud,” katanya.

Sejak Januari – Oktober 2021, tercatat ada 34 Kasus HIV di Kotim. Jumlah tersebut didominasi usia produktif antara 15-49 tahun, yakni sebanyak sekitar 28 orang atau 82,35 persen.

Sekretaris KPAD Kotim Asikin Arfan mengatakan, usia remaja begitu rentan terhadap penularan HIV/AIDS. Selain itu, kasus yang cukup tinggi juga terjadi di kalangan ibu rumah tangga. Dari 34 kasus, sebanyak 13 kasus di antaranya melibatkan ibu rumah tangga.

Baca Juga :  Pemkab Kotawaringin Timur Kurban 120 Sapi  

”Kalangan usia produktif ini yang harus kita selamatkan. Perlu diberikan pengetahuan yang mendalam agar sejak dini mereka mengetahui apa itu HIV/AIDS, bagaimana mencegah penularan virus tersebut,” terangnya.

Terkait pemberian pemahaman HIV/AIDS kepada usia produktif/remaja, menurutnya, sesuai program Millenium Development Goals, di mana pada usia 15-24 tahun sudah mengetahui pengetahuan HIV/AIDS secara komprehensif.

Menurutnya, dalam tahun 2019 dan 2020, implementasi program tersebut diarahkan pada kalangan pelajar saat MOS (Masa Orientasi Siswa) dan PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru), namun tidak dapat dilaksanakan karena turut menyukseskan program Covid-19, yakni mengurangi pertemuan dan kerumunan. Akan tetapi, program itu telah dilaksanakan bekerja sama dengan instansi terkait.

Beberapa kegiatan telah dilakukan KPAD Kotim dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, yakni promosi/sosialisasi. Khususnya bagi kalangan aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemkab Kotim.

”Ada sekitar 18 SOPD yang telah kami datangi untuk promosi/sosialisasi. Kegiatan ini mendapatkan dukungan positif sekali, sehingga dapat berjalan dengan baik,” terangnya.

Sementara itu, untuk mengakhiri epidemi dan ending HIV/AIDS 2030, mewujudkan Three Zero, yaitu tidak ada kasus baru HIV, tidak ada kematian akibat AIDS, dan tidak ada stigma diskriminasi pada ODHA. Kementerian Kesehatan telah mencanangkan program STOP (suluh, temukan, obati dan pertahankan) untuk mencapai target tersebut.

”Diharapkan dengan berbagai upaya yang telah dirancang untuk pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS di daerah dapat berjalan dengan baik,” tandasnya. (yn/ign)

Pos terkait