Siti Hamsiah, Relawan Kemanusiaan dari Kabupaten Seruyan

Menghidupkan Asa Kesembuhan, Ulurkan Tangan untuk Lansia hingga Kaum Duafa

siti hamsiah
DEMI KEMANUSIAAN: Siti Hamsiah bersama putra Suratno dan Sumini yang didampinginya hingga rujukan ke RSUD dr Murjani Sampit. (IST/RADAR SAMPIT)

Rasa kemanusiaan yang tinggi terpacak dalam sanubari Siti Hamsiah. Meski hanya lulusan paket C (setara SMA) dan pedagang warung kecil, perempuan itu mendedikasikan waktu, tenaga, hingga materi untuk berbagai kegiatan kemanusiaan.

FAUZIANNUR-radarsampit.com, Kuala Pembuang

Bacaan Lainnya

Enam tahun sudah Murhan (49), warga Desa Bangun Harja, Kecamatan Seruyan Hilir Timur, Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah, menderita penyakit paru kronis. Kondisi itu membuatnya tak bisa bekerja lagi. Selama itu pula Murhan harus bolak-balik berobat ke puskesmas. Hingga Desember 2021, sakitnya kian parah.

Melihat kondisi Murhan, pihak keluarga sepakat membawanya ke RSUD Kuala Pembuang. Sempat dirawat selama tiga hari, kondisi Murhan mengharuskannya dirujuk ke RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya. Keuangan keluarga terbatas. Mereka juga tak memahami prosedur administrasi rujukan. Bingung dan galau melanda mereka dalam situasi itu.

Di tengah kegalauan itu, keluarga Murhan mendapat informasi mengenai sosok Siti Hamsiah yang kerap membantu orang sakit. Kabar itu diperoleh dari Facebook.

Baca Juga :  Pemkab Seruyan Siapkan Sistem Pengelolaan Pajak Terintegrasi

Acil (sebutan untuk bibi dalam bahasa daerah, Red) mendapat informasi Siti Hamsiah yang sering membantu orang sakit dan mendapat nomornya dari Facebook. Kemudian Acil menghubungi sidin (sebutan dia dalam bahasa daerah, Red)). Dan sidin mau membantu,” tutur Apri (22), anak Murhan, Rabu (16/11).

Setelah dihubungi, Siti Hamsiah ternyata merespons dengan sangat baik. Semua urusan administrasi dan biaya rujukan Murhan ditangani Siti Hamsiah. Bahkan, sampai biaya hidup keluarga menjaga pasien di RSUD Doris Silvanus Palangka Raya pun dibantu.

Siti Hamsiah berkoordinasi dengan relawan Palangka Raya. Dia mengumpulkan donasi untuk kebutuhan keluarga pasien. Setelah empat hari dirawat, kondisi Murhan membaik dan diizinkan pulang.

Akan tetapi, takdir berkata lain. Meski upaya penyembuhan sudah maksimal dilakukan, dua bulan kemudian, Murhan tak mampu bertahan. Pria itu meninggal dunia pada 21 Februari 2022.

”Kami sangat bersyukur dan berterima kasih dibantu oleh sidin (Siti Hamsiah). Jika tidak, bagaimana kami membawa ayah rujuk waktu itu? Bagaimana biaya hidup dan makan minum kami di sana (rumah sakit)? Semua diurus sidin,” kenang Apri.

Pos terkait