Tergeser Sawit, Kejayaan Rotan Kotim Hanya Jadi Cerita Indah Masa Lalu

Rotan Kotim
ROTAN: Pekerja rotan saat mengikat puluhan bilah rotan untuk dikirim ke antarpulau di Gudang Rotan milik salah seorang pengusaha rotan di Kecamatan Kotabesi, pada 13 Maret 2020 lalu. (DOC/HENY RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Sektor rotan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menghadapi masalah besar. Semakin banyak petani yang meninggalkan budidaya rotan untuk beralih ke perkebunan kelapa sawit. Tanaman penghasil crude palm oil (CPO) itu  dianggap lebih cepat memberikan hasil dan menjanjikan keuntungan lebih besar.

Salah satu pengusaha rotan yang masih bertahan, Dahlan, mengakui penurunan tajam pada industri ini sejak pemerintah melarang ekspor rotan mentah pada akhir 2011. Larangan tersebut telah melumpuhkan rantai bisnis rotan lokal yang selama ini bergantung pada pasar ekspor.

Bacaan Lainnya

“Banyak yang menebang rotan mereka dan mengganti dengan sawit. Kami tidak bisa menyalahkan mereka karena sawit dianggap lebih menguntungkan,” ujar Dahlan kepada Radar Sampit, Sabtu (8/2).

Situasi sulit ini juga berdampak langsung pada pengusaha rotan, termasuk dirinya yang tetap mengelola kebun rotannya sendiri dan menjual hasil panen ke Cirebon.  Dahlan mengungkapkan bahwa jumlah pekerjanya yang dulu mencapai lebih dari 200 orang, kini hanya tersisa sekitar 60 orang akibat penurunan permintaan.

“Rotan sering kali menumpuk dan membusuk karena tidak ada pembeli. Ini memaksa kami mengurangi tenaga kerja secara drastis,” tuturnya dengan nada prihatin.

Dahlan menilai, larangan ekspor rotan mentah menjadi penyebab utama runtuhnya sektor ini. Padahal, rotan yang dibudidayakan di Kotawaringin Timur bukan hasil hutan alami, melainkan hasil budidaya masyarakat desa yang berkontribusi besar pada ekonomi lokal.

Ia mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut dengan membuka keran ekspor secara terbatas. “Sistem kuota atau mekanisme buka-tutup ekspor bisa menjadi solusi untuk menjaga kelangsungan sektor ini tanpa mengorbankan industri lokal,” ujarnya.

Rotan, menurut Dahlan, memiliki keunggulan tersendiri. Selain mudah dibudidayakan dan tidak memerlukan perawatan intensif, rotan juga memberikan manfaat lingkungan karena tumbuh merambat pada pohon-pohon, sehingga ikut menjaga hutan tetap lestari.

“Rotan yang tidak dipanen akan terus tumbuh dan menghasilkan lebih banyak. Dengan harga yang saat ini mencapai Rp4.700 per kilogram, potensi rotan masih cukup menjanjikan jika ada dukungan regulasi dari pemerintah,” tambahnya.

Realita  di lapangan menunjukkan tren berbeda. Kebun rotan semakin tergeser oleh perkebunan kelapa sawit, terutama di wilayah utara Kotim. Dahlan memperkirakan hanya sekitar 30 persen kebun rotan yang tersisa dibandingkan masa kejayaannya.

“Petani lebih memilih sawit karena hasilnya lebih cepat dan lebih besar, khususnya bagi mereka yang memiliki lahan luas,” jelas Dahlan.

Dahlan berharap pemerintah segera mengeluarkan regulasi yang mendukung kebangkitan sektor rotan, baik melalui dukungan teknis, pembukaan pasar ekspor, maupun insentif bagi para pelaku usaha. Menurutnya, mempertahankan rotan tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan lingkungan.

“Sektor rotan berjalan mandiri tanpa banyak bantuan pemerintah, tetapi dampaknya luar biasa, terutama dalam menyerap tenaga kerja dan meningkatkan ekonomi desa. Jangan biarkan rotan menjadi cerita masa lalu,” pungkasnya.

Kini, nasib rotan di Kotim ada di persimpangan. Di tengah geliat sawit yang menggiurkan, akankah rotan menemukan kembali masa keemasannya? Semua bergantung pada langkah pemerintah dan kesadaran bersama untuk melestarikan salah satu komoditas unggulan daerah ini. (yn/yit) 

 

Pos terkait