Butet Kartaredjasa dan ’’Guyon Parikeno’’ yang Berbuntut Pelaporan ke Polisi  

Orasi dan Pantun Saya Adalah Kritik, Bukan Ujaran Kebencian

butet
MEMOTRET REALITAS: Seniman Butet Kartaredjasa (kanan) dan komedian Cak Lontong (kiri) dalam pementasan Musuh Bebuyutan di Taman Budaya Jogja Selasa (23/1/2024) lalu. (GUNTUR AGA TIRTANA/JAWA POS RADAR JOGJA)

Terkait yang dia sampaikan di kampanye, Butet Kartaredjasa mengaku menempatkan diri sebagai punakawan yang mengingatkan kesatria dengan cara bercanda. Dia menyebut, ada ratusan pengacara yang siap mendampinginya menghadapi pelaporan.

M.HILMI S-DWI AGUS, Bantul | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

KATA Milan Kundera, sepenuh-penuhnya hidup itu ketika kita tertawa. ’’Hidup itu harus gembira: melihat, mendengar, menyentuh, minum, makan, pipis, beol, menyelam dan menyaksikan langit, tertawa serta menangis,’’ tulis novelis Prancis kelahiran Cekoslowakia itu dalam bukunya yang terkenal, Kitab Tertawa dan Melupakan.

Entah apakah Butet Kartaredjasa mengacu ke Kundera ketika berada di atas panggung kampanye akbar Ganjar Pranowo di Alun-Alun Wates, Kulon Progo, Jogjakarta, Minggu lalu. Yang pasti, seperti diakuinya Selasa (30/1/2024), yang dia sampaikan adalah ’’guyon parikeno’’.

Dalam khazanah kultur Jawa, guyon parikeno adalah kritik yang disampaikan dengan cara bercanda. Seperti kritik para punakawan dalam pewayangan kepada para kesatria yang diasuh.

Baca Juga :  Aquarius Kembali Hadirkan Wisata Kuliner Ramadan

Guyonan dipilih dengan tujuan tidak menyakiti. Namun, memiliki esensi kuat tentang kritik.

’’Harapannya, kesatria yang diajak bercanda ini dicubit tidak merasa sakit. Kalau tidak merasa sakit ya dijewer, tendang bokonge (pantatnya). Itulah tradisi guyon parikeno, bagian dari kultur Jawa yang hebat,’’ katanya kepada belasan wartawan yang menemuinya di rumahnya di Bantul, Jogjakarta, termasuk Jawa Pos dan Jawa Pos Radar Jogja.

Tapi, apa yang dimaksud Raja Monolog itu sebagai guyon parikeno ternyata berbuntut pelaporan dirinya oleh DPD Projo (Pro Jokowi) Jogjakarta ke Polda Jogjakarta kemarin. Butet dianggap melontarkan ujaran kebencian dalam orasinya. Dengan menyebut hewan yang ditujukan kepada Presiden Jokowi.

Dalam orasi, sebagaimana bisa disaksikan dalam video di sejumlah platform, Butet bertanya kepada khalayak yang hadir apa yang biasanya ’’ngintil’’ atau membayangi alias mengikuti dalam bahasa Jawa. Yang hadir kemudian menjawab wedus alias kambing. ’’Wedus kok mendukung paslon,’’ kata Butet dalam orasinya.



Pos terkait