Kesempatan emas tak datang dua kali. Momentum itu dimanfaatkan tenaga pendidik yang dipanggil Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor ke atas panggung untuk menyampaikan kendala yang dihadapi para guru di pelosok.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Sudah 26 tahun sejak tahun 1998, Juwarsih mengabdikan diri sebagai Kepala SDN 1 Satiruk, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur. Selama itu pula dia terpaksa melintas jalan rusak setiap berangkat kerja.
“Mohon maaf, Pak. Saya sudah puluhan tahun mengajar di Desa Satiruk yang letaknya di ujung dunia, sampai sekarang jalannya masih rusak parah, belum ada perbaikan. Kapan ya Pak, jalan poros antardesa bisa diperbaiki,” ucap Juwarsih, Kamis (27/6/2024).
Sebagai perempuan dengan usia yang semakin menua, membuatnya gentar melewati jalur darat. Kondisi jalan sangat membahayakan terutama selepas hujan, karena licin.
“Saya tidak mau menyiksa diri. Saya perempuan, berkendara tidak selihai bapak-bapak. Tidak berani saya melewati jalan rusak yang berisiko untuk keselamatan saya,” ujar Juwarsih.
Juwarsih menetap di rumah dinas guru yang berjumlah lima pintu. Setiap sebulan sekali ia pulang ke Sampit melewati jalur air dengan menyewa kelotok Rp 700 ribu sekali keberangkatan dari Satiruk menuju dermaga Samuda.
“Saya biasa pulang sebulan sekali. Kadang kalau ada kegiatan menghadiri pertemuan kegiatan Dinas Pendidikan Kotim seperti ini, saya bisa beberapa kali pulang pergi ke Sampit. Sekali berangkat ongkosnya Rp 700 ribu, kalau diisi banyak penumpang bisa ringan biayanya, tapi pas kebetulan penumpang sepi mau tidak mau bayar ongkosnya sebesar itu,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Juwarsih juga menanyakan kenapa seorang tenaga pendidik seperti dirinya yang mengajar jauh di pelosok desa, sekarang tidak lagi menerima tunjangan khusus guru (TKG) yang berada di daerah terpencil, terluar dan terisolir dari Kemendikbudristek RI.
“Sudah sembilan tahun saya menerima tunjungan khusus daerah terpencil. Namun, sejak tahun 2020 saya dan delapan guru yang bertugas di SDN 1 Satiruk sudah tidak pernah lagi menerimanya. Padahal, itu jadi penyemangat kami bekerja,” katanya.
Ia sudah mempertanyakan hal itu, dan ia bingung dengan alasan yang kurang masuk akal. “Ada syarat untuk menerima TKG harus desa terpencil, pihak desa yang mengisi data itu menulis Desa Satiruk sudah menjadi desa maju, padahal faktanya kan belum. Karena, data yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan ini berdampak terhadap hilangnya rezeki kami,” ucapnya seraya menyebut nilai TKG yang diterimanya sama seperti sebulan gaji.
Lebih lanjut, Juwarsih mengatakan masalah listrik yang sering mati di Kecamatan Pulau Hanaut juga menjadi kendala yang berimbas terhadap kinerja.
“Sering sekali di Pulau Hanaut itu mati listrik. Seminggu bisa 3-4 kali mati. Kalau ada satu desa di Pulau Hanaut mati listrik, semua desa juga ikut mati listrik, ini yang kadang bisa menghambat pekerjaan,” ujarnya.
Tenaga pendidik yang juga mengajar di SDN 1 Satiruk lainnya juga menyampaikan kendala yang dihadapi terkait sinyal jaringan internet.
”Jaringan internet di Satiruk sebenarnya lancar saja karena sudah ada tower, tapi yang jadi masalah, kalau listrik padam, sinyalnya ikut juga terganggu akhirnya imbasnya pelaporan e-personal dan e-kinerja menjadi terkendala,” ucap pria yang tak diketahui namanya ini.
Ungkapan yang sama juga disampaikan tenaga pendidik yang bertugas di Kecamatan Bukit Santuai. Dari 14 desa, ada beberapa yang masih mengalami kendala sinyal jaringan.
“Alhamdulillah saya diminta maju menghadap pian. Jarang-jarang saya bisa bertemu Pak Bupati behadapan langsung seperti ini. Mohon izin saya sampaikan terkait pelaporan e-kinerja aman tidak ada kendala. Tapi, e-personal ini yang masih ada kendala. Dari 14 desa ada beberapa yang sulit sinyal. Memang masih bisa online tapi mencari titik koordinatnya juga kesulitan,” ujarnya.








