SAMPIT, radarsampit.com – Sejumlah kepala desa (kades) di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kesulitan melaporkan perkembangan terkini terkait banjir yang melanda desa mereka. Hal ini karena banyak desa di Kotim yang masih blank spot atau belum terjangkau jaringan seluler.
Seperti di Kecamatan Kotabesi, sejumlah desa di kecamatan tersebut dilanda banjir. Namun, karena ada desa yang belum terjangkau jaringan seluler, menyulitkan kades memperbaharui laporan terkait kondisi banjir di wilayah masing-masing.
”Beberapa desa di Kotabesi masih blank spot. Ini menyebabkan keterlambatan pengiriman data yang sering kami alami, termasuk dalam laporan banjir,” kata Camat Kotabesi Gusti Mukafi.
Dia menjelaskan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim menerima data dari pihak kecamatan. Data yang dimiliki kecamatan itulah yang dilaporkan ke BPBD.
Blank spot memang telah menjadi masalah lama yang berdampak pada kinerja pemerintah di desa yang bersangkutan. Kondisi ini menyebabkan ada perbedaan data terkait kondisi banjir yang dirilis BPBD Kotim dengan kenyataan yang terjadi kecamatan.
Gusti mengakui kondisi itu semata-mata karena pihak kecamatan terkendala dalam memberikan laporan kondisi banjir terbaru, disebabkan permasalahan blank spot di sejumlah desa yang masih terdampak banjir.
Berdasarkan data dari BPBD, di Kecamatan Kotabesi hanya tersisa satu desa yang terdampak banjir, yakni Desa Hanjalipan. Namun, berdasarkan laporan sejumlah kades yang ditemui Radar Sampit, total ada enam desa yang masih terdampak banjir, yakni Desa Hanjalipan, Palangan, Rasau Tumbuh, Soren, Simpur, dan Dusun Pamadauan di Desa Pamalian.
”Pada kenyataannya ada enam desa yang, yang masih terdampak. Memang agak surut, tapi belum sepenuhnya. Bahkan, kalau ada hujan lagi diperkirakan debit air akan kembali naik,” ujarnya.
Dari segi teknologi desa yang berada di wilayah blank spot, lanjutnya, masih tertinggal jauh dibanding desa yang sudah terjangkau jaringan seluler. Bahkan, ketika kebanyakan pemerintah desa sudah memiliki website masing-masing, pemerintah Desa Simpur, Rasau Tumbuh, Pamalian, Soren, Palangan, dan Hanjalipan, harus berjuang mencari lokasi yang terjangkau sinyal seluler hanya untuk mengirimkan laporan ke kecamatan.
Lokasi yang terjangkau sinyal seluler biasanya berada di daerah perbukitan yang jauh dari pusat desa. Dalam kondisi banjir saat ini, jangankan untuk mengirimkan laporan, mobilitas masyarakat pun terganggu. Bahkan, jalan desa terputus akibat terendam banjir.
”Karena jaringan yang sulit, saya upayakan datang langsung ke desa-desa yang blank spot untuk memantau dan bertemu langsung dengan kades dan juga warga. Tapi, waktu saya juga terbatas, karena masih ada tugas di kecamatan,” ujarnya.
Kades Rasau Tumbuh Syamsudin menambahkan, selama dua minggu terakhir wilayahnya terdampak banjir dan masih berlangsung hingga kini. Banjir dengan kedalaman 70 cm – 1 meter dari permukaan jalan, membuat sebagian rumah di wilayah itu terendam dengan kedalaman 10 cm – 30 cm dari permukaan lantai. Rumahnya juga termasuk yang terendam banjir.
Di desa tersebut, dari total 120 rumah, ada 80 rumah yang terdampak, dengan sekitar 100 kepala keluarga (KK). Saat ini, lanjutnya, aktivitas sebagian warga macet, seperti petani karet dan rotan, juga nelayan, yang masih bisa bekerja rata-rata adalah warganya yang bekerja sebagai karyawan perkebunan kelapa sawit.
Sejauh ini, tambahnya, bantuan yang telah diterima adalah dari organisasi wanita dan perusahaan besar swasta (PBS) terdekat. Total 140 paket paket bahan pokok. Bantuan tersebut biasanya hanya bertahan kurang dari sepekan. Karena itu, pihaknya berupaya mengusulkan ke PBS lainnya agar mendapat bantuan kebutuhan pokok bagi warga yang terdampak.








