Data Banjir Kotim Bisa Tak Seragam, Ini Kendala Utamanya

banjir desa hanjalipan
TERKENDALA JARINGAN: Camat Kotabesi Gusti Mukafi memantau lokasi banjir di wilayah setempat, Selasa (13/9). (IST/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Sejumlah kepala desa (kades) di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kesulitan melaporkan perkembangan terkini terkait banjir yang melanda desa mereka. Hal ini karena banyak desa di Kotim yang masih blank spot atau belum terjangkau jaringan seluler.

Seperti di Kecamatan Kotabesi, sejumlah desa di kecamatan tersebut dilanda banjir. Namun, karena ada desa yang belum terjangkau jaringan seluler, menyulitkan kades memperbaharui laporan terkait kondisi banjir di wilayah masing-masing.

Bacaan Lainnya

”Beberapa desa di Kotabesi masih blank spot. Ini menyebabkan keterlambatan pengiriman data yang sering kami alami, termasuk dalam laporan banjir,” kata Camat Kotabesi Gusti Mukafi.

Dia menjelaskan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim menerima data dari pihak kecamatan. Data yang dimiliki kecamatan itulah yang dilaporkan ke BPBD.

Blank spot memang telah menjadi masalah lama yang berdampak pada kinerja pemerintah di desa yang bersangkutan. Kondisi ini menyebabkan ada perbedaan data terkait kondisi banjir yang dirilis BPBD Kotim dengan kenyataan yang terjadi kecamatan.

Baca Juga :  Ternyata Masih Bersengketa, Warga Gugat Pengelola Bandara Tjilik Riwut, Ada Janji Uang Rp 3 Miliar

Gusti mengakui kondisi itu semata-mata karena pihak kecamatan terkendala dalam memberikan laporan kondisi banjir terbaru, disebabkan permasalahan blank spot di sejumlah desa yang masih terdampak banjir.

Berdasarkan data dari BPBD, di Kecamatan Kotabesi hanya tersisa satu desa yang terdampak banjir, yakni Desa Hanjalipan. Namun, berdasarkan laporan sejumlah kades yang ditemui Radar Sampit, total ada enam desa yang masih terdampak banjir, yakni Desa Hanjalipan, Palangan, Rasau Tumbuh, Soren, Simpur, dan Dusun Pamadauan di Desa Pamalian.

”Pada kenyataannya ada enam desa yang, yang masih terdampak. Memang agak surut, tapi belum sepenuhnya. Bahkan, kalau ada hujan lagi diperkirakan debit air akan kembali naik,” ujarnya.

Dari segi teknologi desa yang berada di wilayah blank spot, lanjutnya, masih tertinggal jauh dibanding desa yang sudah terjangkau jaringan seluler. Bahkan, ketika kebanyakan pemerintah desa sudah memiliki website masing-masing, pemerintah Desa Simpur, Rasau Tumbuh, Pamalian, Soren, Palangan, dan Hanjalipan, harus berjuang mencari lokasi yang terjangkau sinyal seluler hanya untuk mengirimkan laporan ke kecamatan.

Pos terkait