Huru-hara Kalteng Putra, Manajemen Kecam Unggahan Pemain soal Gaji

kalteng putra
GAGAL LAGI: Pemain Kalteng Putra saat berlaga di Stadion Tuah Pahoe melawan Pesipura Jayapura, Senin (22/1/2024). (DODI/RADAR SAMPIT)

PALANGKA RAYA, radarsampit.com – Klub sepak bola kebanggaan Kalimantan Tengah, Kalteng Putra, tengah dilanda huru-hara alias keributan. Unggahan sejumlah pemain Laskar Isen Mulang di media sosial soal gaji dan bonus, direspons dengan keras oleh manajemen Kalteng Putra.

Manajer Tim Kalteng Putra Sigit Widodo menegaskan, pihaknya akan menempuh upaya hukum terhadap pemain yang dinilai telah mencemarkan nama baik Kalteng Putra dan manajemen.

Bacaan Lainnya

”Harusnya tidak seperti itu. Mereka mengancam dalam tuntutan itu. Kami merasa ada pencemaran nama baik. Saya tekankan diklausul kontrak itu sudah jelas. Pasti manajemen memenuhi kewajiban,” tegasnya, Rabu (24/1/2024).

Sigit mengatakan, Manajemen Kalteng Putra menyesalkan tindakan pemain yang dianggap tak sesuai. Salah satunya menuntut bonus tinggi, padahal Kalteng Putra sudah memberikan gaji cukup besar.

“Gaji pemain Kalteng Putra ini paling besar dibandingkan klub-klub Liga 2 Indonesia lainnya,” ucapnya.

Manajemen juga kecewa dengan pemain yang mengancam mogok bertanding. Sebab, hal itu sama saja menyalahi aturan yang tertuang dalam kontrak.

Baca Juga :  Resah Bau Busuk Menyengat, Ternyata Ada Mayat Membusuk di Parit

”Di dalam kontrak itu sudah disepakati apa saja aturan yang harus dilaksanakan. Kalau ada yang menyalahi ketentuan tersebut, tentunya ada punishment kepada manajemen atau pemain,” ujarnya.

Menurut Sigit, Agustiar Sabran selaku CEO Kalteng Putra kecewa karena musim ini para pemain dinilai belum memenuhi target yang diinginkan. Padahal manajemen sudah sangat profesional mempersiapkan tim.

Di awal musim, Kalteng Putra sempat menargetkan bisa kembali ke Liga 1. Alih-alih memenuhi target, prestasi Laskar Isen Mulang justru melorot dan terancam degradasi ke Liga 3.

”Ya, wajar saja jika pemilik klub kecewa dan ingin pemain berlaku profesional. Hak dan kewajiban semua sudah diatur dalam kontrak. Jadi, tugas pemain ya bermain sebaik mungkin. Pemain itu harus tampil all out. Mental pemain dipertanyakan. Menuntut hak, tetapi kewajiban tidak dijalankan. Mainnya tidak optimal,” kata Sigit.

Sigit menegaskan, kabar menunggaknya gaji pemain selama dua bulan tidak benar. Kondisi finansial klub juga baik-baik saja. ”Sebenarnya gaji pemain bukan menunggak, melainkan ada keterlambatan saja selama 15 hari. Bukan dua bulan,” katanya.



Pos terkait