Kisah Srikandi BPBD Kotawaringin Barat, Berjibaku Padamkan Karhutla Saat Perayaan Natal

veronica
PADAMKAN KARHUTLA: Veronika bersama rekan-rekannya saat penanganan Karhutla di Tatas Kelurahan Baru, Minggu (25/12) (Istimewa)

Panggilan kemanusiaan bernilai ibadah lebih besar. Meski sedang merayakan natal bersama keluarga, namun saat panggilan datang maka harus langsung terjun ke lapangan.

KOKO SULISTYO, Pangkalan Bun 

Minggu 25 Desember 2022, di hari itu umat Nasrani di Kabupaten Kotawaringin Barat sedang merayakan hari Natal, tidak terkecuali Feronika Febriana Trirahayu.

Personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kobar itu tengah larut dalam kegembiraan bersama keluarga untuk merayakan hari yang sangat spesial bagi mereka.

Momen itu harus ia tinggalkan, ketika mendapat informasi terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan. Jiwanya merasa terpanggil, bergegas menuju Mako BPBD untuk menjalankan tugas kemanusiaan dan bergabung bersama personel lainnya.

Bersama rekan-rekannya yang mayoritas pria, ia berangkat dengan 4 unit mobil pemadam menuju lokasi kebakaran hutan dan lahan di BTN Tatas Mutiara 1, RT 26, Kelurahan Baru. “Kalau penanganan sudah menjadi tugas dan kewajiban kami di lapangan, terlebih penanganan kebencanaan,” ujarnya, Minggu (25/12).

Ia mengakui jiwa kemanusiaannya berontak ketika mendapat informasi ada kebakaran, ia tidak bisa berdiam diri meski ia sedang merayakan hari natal. Padahal hari itu pimpinan telah memberi dispensasi untuk mereka yang merayakan natal agar bisa berkumpul bersama keluarga.

Baca Juga :  Percepat Distribusi Vaksin Covid-19

Bahkan, ia tidak minder harus berjibaku di tengah kobaran api bersama personel yang mayoritas pria itu. Menurutnya hal itu adalah lumrah bagi pekerja kemanusiaan seperti mereka.

Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Kobar Martogi Sialagan mengapresiasi anak buahnya itu, meski dalam suasana natal masih bertanggung jawab dengan tugas yang diembannya.

Ditegaskannya tim redaksi cepat BPBD sejatinya siap siaga 24 jam baik regu 1,2 dan 3 untuk antisipasi kebencanaan yang terjadi sewaktu – waktu.

“TRC tidak mengenal hari libur dan setiap saat harus siaga, saya secara pribadi mengapresiasi terhadap rekan kita yang merayakan natal tapi masih bertanggungjawab terjun ke lokasi, komitmen ini juga dijalankan oleh teman-teman saat menjalankan ibadah puasa, bila ada bencana mereka sigap turun meski menahan haus dan lapar,” pungkasnya (*/sla)

Pos terkait