Melihat Kondisi PPM Sampit yang Kian Meredup (1)

Pedagang Kian Sepi Pelanggan, Hanya Berharap Perantau di Perkebunan Sawit

bokssss
MAKIN SEPI: Muhri, pedagang pakaian di PPN Sampit menanti pembeli di kiosnya, akhir pekan lalu. (Heny/Radar Sampit)

Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit pernah berjaya pada masanya. Menjadi satu-satunya tempat perbelanjaan yang ramai dikunjungi. Perkembangan zaman membuat eksistensinya meredup dan perlahan ditinggalkan pelanggan. Baca sampai akhir tulisan bersambung dari kami.

HENY, Sampit | radarsampit.com

Bacaan Lainnya
Gowes

Setiap akhir pekan pada minggu pertama, pedagang begitu bersemangat menyambut pengunjung. Mereka menanti kedatangan para pengunjung dari luar Kota Sampit yang ingin berbelanja setelah menerima gaji bulanan. Pedagang paham betul karakteristik pengunjung dari luar Kota Sampit yang menjadi sumber penghasilan mereka.

Sekarang, masyarakat yang berdomisili di Sampit jarang mampir ke PPM Sampit. Tempat perbelanjaan yang kini sudah tersedia di berbagai sudut kota dengan jangkauan yang mudah dan kekinian, membuat masyarakat enggan berbelanja ke PPM yang dinilai tak semenarik dulu.

Suasana sepi menyapa Radar Sampit saat menyusuri lantai dua PPM Sampit, Sabtu (17/6) siang lalu. Akhir pekan yang semestinya ramai, nyaris tak ada pembeli di lokasi yang diperuntukkan bagi pedagang pakaian tersebut.

Baca Juga :  Dinilai Kurang Bayar, Warga Ancam Portal Perkebunan di Cempaga

Seorang pria tua berkopiah putih duduk dengan wajah lesu. Persis di dekat tumpukan pakaian, pria itu mengusir kebosanan sambil menonton ceramah dari layar gadget yang ia topang menggunakan jemarinya. Meski raut wajahnya jelas tak bersemangat, lisannya tak pernah berhenti menawarkan barang ketika pengunjung melintas, termasuk kepada Radar Sampit. ”Mencari apa? Tanya-tanya aja lihat dulu barangnya enggak apa-apa,” ucapnya dengan nada yang ramah.

Radar Sampit kembali mengingatkan Muhri. Pedagang senior yang empat tahun lalu pernah diwawancarai Radar Sampit ketika ia masih berusia 66 tahun. Muhri kini sudah berusia 70 tahun. Wajahnya semakin menua, meski semangatnya untuk berdagang tak pernah pudar.

Pengalamannya menjadi pedagang kain sudah dilakoninya sejak 1988 silam hingga sukses membangun usaha secara mandiri. Muhri lalu memutuskan membeli kios di lantai dua PPM yang saat itu dibangun tahun 2004 dengan ukuran 4 x 3 meter di blok DS. Harga awalnya Rp22,5 juta. Saat itu statusnya sewa pakai dengan Pemkab Kotim.



Pos terkait