Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit pernah berjaya pada masanya. Menjadi satu-satunya tempat perbelanjaan yang ramai dikunjungi. Perkembangan zaman membuat eksistensinya meredup dan perlahan ditinggalkan pelanggan. Baca sampai akhir tulisan bersambung dari kami.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Setiap akhir pekan pada minggu pertama, pedagang begitu bersemangat menyambut pengunjung. Mereka menanti kedatangan para pengunjung dari luar Kota Sampit yang ingin berbelanja setelah menerima gaji bulanan. Pedagang paham betul karakteristik pengunjung dari luar Kota Sampit yang menjadi sumber penghasilan mereka.
Sekarang, masyarakat yang berdomisili di Sampit jarang mampir ke PPM Sampit. Tempat perbelanjaan yang kini sudah tersedia di berbagai sudut kota dengan jangkauan yang mudah dan kekinian, membuat masyarakat enggan berbelanja ke PPM yang dinilai tak semenarik dulu.
Suasana sepi menyapa Radar Sampit saat menyusuri lantai dua PPM Sampit, Sabtu (17/6) siang lalu. Akhir pekan yang semestinya ramai, nyaris tak ada pembeli di lokasi yang diperuntukkan bagi pedagang pakaian tersebut.
Seorang pria tua berkopiah putih duduk dengan wajah lesu. Persis di dekat tumpukan pakaian, pria itu mengusir kebosanan sambil menonton ceramah dari layar gadget yang ia topang menggunakan jemarinya. Meski raut wajahnya jelas tak bersemangat, lisannya tak pernah berhenti menawarkan barang ketika pengunjung melintas, termasuk kepada Radar Sampit. ”Mencari apa? Tanya-tanya aja lihat dulu barangnya enggak apa-apa,” ucapnya dengan nada yang ramah.
Radar Sampit kembali mengingatkan Muhri. Pedagang senior yang empat tahun lalu pernah diwawancarai Radar Sampit ketika ia masih berusia 66 tahun. Muhri kini sudah berusia 70 tahun. Wajahnya semakin menua, meski semangatnya untuk berdagang tak pernah pudar.
Pengalamannya menjadi pedagang kain sudah dilakoninya sejak 1988 silam hingga sukses membangun usaha secara mandiri. Muhri lalu memutuskan membeli kios di lantai dua PPM yang saat itu dibangun tahun 2004 dengan ukuran 4 x 3 meter di blok DS. Harga awalnya Rp22,5 juta. Saat itu statusnya sewa pakai dengan Pemkab Kotim.
”Awalnya saya ikut orang dari tahun 1970 sampai 1984 jualan sembako di Pasar Inpres dan pernah menjadi korban kebakaran sampai empat kali kejadian tahun 1973. Mulai usaha dari nol lagi dan mencoba usaha sendiri dan saya memilih berdagang kain,” ucap Muhri didampingi istrinya yang baru saja mengakhiri makan siangnya.
Dia merasakan betul perubahan zaman dan perkembangan teknologi masa kini yang kian canggih yang membuat semua berubah tak sama seperti dulu. Muhri dan pedagang senior lainnya pernah merasakan kejayaan berdagang. Transaksi jual beli mengalir lancar. Perekonomian di Kota Sampit tumbuh pesat, tepatnya saat usaha perkayuan di Kotim sedang berjaya pada masa itu.
Belum banyak persaingan dagang. Ritel modern masih belum menjamur seperti sekarang dan warga Kotim masih terbilang sejahtera pekerjaannya.
”Dulu saat masih berjayanya usaha perkayuan di Kotim, warga di Kotim begitu mudah mendapatkan uang. Perekonomian lancar, penjualan pun lancar. Pasar tidak pernah sepi meskipun hari biasa,” ujar Muhri.
Kondisi itu jauh berbeda dengan sekarang yang dialami Muhri dan pedagang PPM lainnya. Setiap hari pedagang begitu menantikan pembeli. Namun, begitu sulitnya pedagang menjual barang bahkan mendatangkan pengunjung agar mau mampir ke lantai dua PPM saja sama sulitnya seperti mendatangkan pejabat.
Kerinduannya melayani pembeli seperti pada masa puluhan tahun lalu begitu ia harapkan. Semuanya berubah dalam 10 tahun terakhir. Kini Muhri hanya berharap pada masyarakat dari luar Kota Sampit terutama masyarakat pendatang yang merantau kerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit yang membuat pendapatannya membaik.








