Mentaya Hulu Makin Tenggelam akibat Banjir Kiriman

Banjir Mentaya Hulu
SEMAKIN DALAM: Banjir yang terjadi di Kuala Kuayan merendam rumah warga. Bencana tersebut akibat tingginya curah hujan dan kiriman air dari wilayah hulu. (Istimewa)

SAMPIT, radarsampit.com – Banjir kiriman yang melanda Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah kian parah.

Kedalaman air terus bertambah seiring meningkatnya intensitas hujan di wilayah hulu. Diperkirakan ratusan rumah warga terendam akibat bencana tersebut.

Bacaan Lainnya

”Kondisi air terus naik. Saat ini sudah sekitar 90-100 sentimeter,” kata Muhammad Indra, Camat Mentaya Hulu, kemarin (29/5/2024).

Indra menuturkan, banyak rumah hingga penginapan di Kuala Kuayan yang terendam. Untuk jumlahnya, pihaknya masih melakukan inventarisasi semua yang terdampak banjir kiriman tersebut.

”Sebenarnya ini adalah banjir kiriman dari wilayah hulu. Dari Bukit Santuai dengan Telaga Antang,” ujar Indra.

Indra memperkirkan apabila intensitas hujan terus meningkat, banjir akan terus meluas. ”Air kiriman dari hulu, ketika hulunya sudah mulai surut, maka wilayah hilir ini akan terkena dampaknya,” jelasnya.

Meski dilanda bencana, kata Indra, sebagian besar warga masih bisa beraktivitas. ”Masih berjalan normal, karena memang siklus seperti ini sudah sering terjadi setiap tahun,” kata Indra.

Baca Juga :  Pemudik Sampit Mulai Bergerak, Pelni Tambah Armada

Selain di Kuala Kuayan, banjir juga masih terjadi di wilayah utara Kotim lainnya. BPBD Kotim mencatat, sebanyak 26 desa dilaporkan terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan, debit air masih bertahan. Beberapa desa dikabarkan ada yang mulai surut. Namun, curah hujan di wilayah utara masih tinggi, ditambah air pasang di Sungai Mentaya.

”Mudah-mudahan curah hujan berkurang, genangan banjir lekas surut,” ujarnya, seraya menambahkan, awal banjir ada yang mulai naik tanggal 25 dan 26 Mei dengan ketinggian berkisar 30-150 cm.

Camat Telaga Antang Sudar mengatakan, meski banjir terjadi sampai lima hari, warga masih bertahan. Belum ada satu pun yang mengungsi.

”Aktivitas warga mulai terganggu karena baru dua Desa Rantau Suang dan Rantau Sawang yang sudah mulai surut, sedangkan sembilan desa lainnya air masih bertahan,” kata Sudar.

Selama banjir, masyarakat memilih tetap bertahan di rumah masing-masing dan memanfaatkan ces dan kelotok sebagai alat transportasi sehari-hari.



Pos terkait