Nelayan dan Motoris Getek Tercekik Harga BBM

motoris getek
PENYEBERANGAN SUNGAI: Salah seorang motoris getek di Sungai Arut, saat mengantarkan penumpang menyeberang, belum lama ini.

PANGKALAN BUN, RadarSampit.com – Imbas kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bukan hanya dirasakan oleh masyarakat di perkotaan, tetapi juga oleh para nelayan dan motoris transportasi air di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Para nelayan di Kecamatan Kotawaringin Lama misalnya dengan kebutuhan BBM sekitar 10 sampai 12 liter setiap pergi mencari ikan, tidak sebanding dengan hasil tangkapan yang diperoleh, terlebih saat ini ikan sifatnya musiman.

Bacaan Lainnya

Kondisi tersebut mulai dikeluhkan, kondisi serupa juga dirasakan oleh motoris getek di Sungai Arut. BBM jenis solar yang sudah mencapai Rp16 ribu di pangkalan membuat mereka pusing tujuh keliling.

Untuk operasional setiap harinya saja mereka membutuhkan di atas 5 liter solar dan mereka selama ini tidak mendapatkan jatah solar bersubsidi. Mereka membeli dengan harga normal (industri) di pangkalan.

Untuk diketahui bahwa nelayan di Kecamatan Kolam maupun motoris getek di Sungai Arut tidak mendapatkan jatah minyak solar bersubsidi.

Baca Juga :  BPJAMSOSTEK Pangkalan Bun Gelar Kampanye Anti Korupsi

Salah seorang nelayan di Kelurahan Kotawaringin Hilir, Kecamatan Kotawaringin Lama, Rusli Effendi mengatakan dengan harga minyak solar yang mencapai Rp16 ribu membuat nelayan semakin terpuruk.

“Semakin sulit dari waktu ke waktu, hasil tangkapan berkurang, tetapi harga BBM justru naik, hal itu yang dikeluhkan oleh nelayan di sini, besar pengeluaran dari pada penghasilan, namun kita tidak ada pilihan selain menjalaninya,” ujarnya, Rabu (7/9).

Ia mengakui bahwa di Kecamatan Kotawaringin Lama ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tetapi mereka sering tidak kebagian minyak. Saat tiba di SPBU solar sudah habis dan per orang hanya dijatah 20 liter.

Pos terkait