Oknum DAD Jakarta Dianggap Meresahkan Suku Dayak

Macan Borneo Mendesak Permintaan Maaf Terbuka

Kelompok Masyarakat Cendikiawan (Macan) Borneo saat menemui Ketua Umum DAD Kalteng Agustiar Sabran
Kelompok Masyarakat Cendikiawan (Macan) Borneo saat menemui Ketua Umum DAD Kalteng Agustiar Sabran dan jajaran pengurus di Rumah Betang Hapakat, untuk menyampaikan protes kepada pihak DAD DKI Jakarta, Rabu (10/5).(dodi/radarsampit)

PALANGKA RAYA, RadarSampit.com-Puluhan warga yang tergabung dalam organisasi kemasyarakat Masyarakat Cendikiawan (Macan) Borneo,  menggelar aksi damai dan tatap muka kepada Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng Agustiar Sabran, dan jajaran pengurus di Rumah Betang Hapakat, Rabu (10/5).

Aksi digelar sebagai bentuk protes keras atas ungkapan salah satu pengurus DAD DKI Jakarta Yopinus Salim, selaku Timanggong Adat Dayak DAD DKI Jakarta yang mengeluarkan pernyataan bahwa meminum darah anjing, babi dan ayam sebagai bukti menjadi orang Dayak. Padahal hal itu tidak benar dan tidak mendasar, sehingga bisa melukai perasaan masyarakat Suku Dayak.

Bacaan Lainnya

Ketua DPW Macan Borneo Kalteng M Soeparto menyampaikan,  pihaknya juga telah menyusun surat aduan kepada  Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) terkait pernyataan pengujian orang Dayak harus menggunakan tiga hal tersebut. “Kami protes keras atas hal itu, kami tegaskan hal  tersebut tidak dapat diterima, karena merupakan bentuk budaya yang salah,”tegasnya.

Baca Juga :  Pelayanan Kesehatan Buruk, Pemkab Kotim Langsung Turunkan Tim Investigasi

Menurut Soeparto, tindakan preventif harus dilakukan untuk mencegah penyebaran budaya yang menyesatkan, kepada generasi mendatang. Oleh karena itu, pihaknya meminta Yopinus Salim dituntut adat dengan ketentuan yang berlaku dan mundur dari jabatannya.

Selain itu, pihak DPW Macan Borneo Kalteng juga meminta klarifikasi dan permintaan maaf dari Yopinus Salim kepada masyarakat Dayak.

“Saya menegaskan, pengujian kesukuan harus dilakukan dengan bahasa dan kekerabatan, bukan dengan penggunaan darah ayam, anjing, atau babi. Tidak ada semacam itu. Kami tidak terima dan bersama masyarakat akan meminta yang bersangkutan meminta maaf,”tegas Soeparto.

Ia menambahkan, aksi pihaknya ini bukan membenci atau menyerang MADN, tetapi hal ini kontrol sosial dari masyarakat. Dengan harapan juga untuk lebih mengontrol ungkapan,  dan agar tidak sembarangan dipublikasikan secara luas.

”Maka itu kita mengadu ke MADN karena oknum DAD DKI  ii sembarangan berbicara. Kami juga meminta dituntut adat sesuai ketentuan di Kalteng. Mundur dari jabatan dan membuat video klarifikasi dengan meminta maaf kepada seluruh masyarakat Dayak di Indonesia,” pungkas Soeparto.



Pos terkait