SAMPIT, radarsampit.com – Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai sepi. Bahkan, banyak kios tutup karena pemiliknya merugi.
Pasar PPM merupakan salah satu ikon Kota Sampit. Aktivitas jual beli semakin sepi sejak Pandemi Covid-19. Ratusan pedagang tidak mampu bertahan dan memilih untuk menutup kiosnya.
Yudi, salah satu pedagang di Pasar PPM Sampit, mengatakan bahwa ada sekitar 100 kios di pasar tersebut yang tutup. “Sampai saat ini banyak yang tutup. Dari 400 kios di Pasar PPM, ada sekitar 100 kios yang tutup. Jadi yang tersisa itu sekitar 300 kios,” ucap pedagang yang memiliki kios ponsel di lantai dasar PPM Sampit itu.
Pedagang yang gulung tikar karena sepinya pengunjung Pasar PPM mayoritas pedagang pakaian di lantai 2. Sedangkan pedagang di lantai dasar masih banyak yang membuka kiosnya. Mereka mencoba untuk tetap bertahan, meskipun sepi pembeli.
“Sampai sekarang masih bertahan saja, walaupun sehari-hari sepi pembeli,” sebutnya.
Menurut Yudi, perilaku konsumen mengalami pergeseran seiring lantaran perkembangan zaman. Masyarakat banyak beralih belanja online dan ke ritel modern.
“Sepertinya pola masyarakat berbelanja saat ini sudah berbeda dengan dulu, sekarang sudah ada banyak tempat belanja, bisa belanja secara online juga. Dan ada mal yang sering mengadakan event untuk menarik minat pengunjung,” ungkapnya.
Yudi menilai tidak berkembangnya Pasar PPM selama ini karena kurangnya pengelolaan. Pihaknya berharap pemerintah daerah bisa memberikan solusi agar PPM bisa kembali bergairah dengan seringnya menggelar kegiatan.
“Kami inginnya ada kegiatan yang diagendakan di sini, sering digelar event-event di sini, biar ramai pengunjung. PPM jadi ramai lagi. Setidaknya mereka yang datang bisa sekalian berbelanja,” sebutnya.
Pedagang lainnya Sulaiman yang membuka kios pakaian di lantai dua juga merasakan lesunya gairah jual beli di Pasar PPM Sampit. Sulaiman menjadi salah satu saksi dari perubahan PPM Sampit yang dulunya berjaya kemudian meredup seperti sekarang.
“Di sini dulu satu-satunya pasar besar di Kota Sampit, semua kebutuhan lengkap ada di PPM. Makanya dulu PPM sangat ramai, karena tidak hanya warga dalam kota tapi yang dari luar Kota Sampit, dari kebun belanjanya di sini,” sebutnya.
Sampai saat ini Sulaiman masih bertahan, meski teman seangkatanmya yang sama-sama berjualan di lokasi tersebut memilih menutup kios sebelum pandemi melanda. Di dekat kios milik Sulaiman juga terdapat banyak kios yang telah tutup bertahun-tahun
“Ya seperti ini kondisinya, sudah banyak yang tutup,” imbuhnya.
Sejak tahun 1992 Sulaiman sudah berjualan di kawasan tersebut, sejak PPM masih merupakan kawasan Pasar Inpres. Dulunya, kawasan tersebut merupakan pusat ekonomi di Sampit, karena aktivitas jual beli cukup tinggi.
Sulaiman mencoba untuk tetap bertahan walaupun omzetnya sekarang anjlok dibanding beberapa tahun lalu.”Sekarang buka dari pagi sampai sore, paling hanya ada satu atau dua orang pembeli. Pernah juga tidak ada yang beli sama sekali. Mau gimana lagi begini kondisinya,” sebutnya.
Sekitar tahun 2017, tantangan pedagang di PPM Sampit semakin berat karena bermunculan toko-toko serba murah dan toko online.
“Tahun 2017 sebelum ada pandemi itu sudah sepi, sudah banyak yang tutup. Salah satunya karena banyaknya toko serba murah yang muncul. Biasanya mereka mematok satu harga untuk semua jenis barang. Sedangkan kami tidak bisa seperti itu. Satu daster, mereka jualnya Rp 35 ribu. Sedangkan modal kami untuk satu daster saja itu sudah Rp 75 ribu. Yang jelas dari segi kualitas berbeda, tapi kebanyakan pembeli sekarang lebih suka cari yang murah, dari pada kualitas,” ungkapnya.








