SURABAYA, radarsampit.com – Berkirim parsel atau hampers saat lebaran menjadi salah satu tradisi di sebagian masyarakat.
Meski lebaran masih kurang 20 hari lagi, namun penjualan parcel di Surabaya sudah mengalami peningkatan pemesan.
Bahkan diperkirakan pembelian parcel tahun ini lebih meningkat dibandingkan tahun lalu. Salah satu pusat penjualan parsel di Surabaya adalah di kawasan Walikota Mustajab.
Berbagai macam parcel mulai dari yang berisi makanan ringan, sirup, kipas angin, piring, blender, serta pigora terpajang di toko di sana.
Bahkan para pembeli sudah melakukan order di awal-awal Ramadan agar pengiriman lebih cepat tiba, terutama yang dikirim ke luar kota Surabaya.
Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 2,5 juta. “Sudah mulai ramai sejak Senin kemarin,” kata kepala toko parcel Elson, Nurul Elmiana kepada Radar Surabaya.
Ia mengaku penjualan parcel tahun ini lebih ramai. Karena yang pesan di awal Ramadan sudah mencapai 2.000.
“Sepertinya tahun ini lebih ramai. Kalau melihat pergerakan awal puasa, karena sudah 2.000 parcel sudah dipesan. Dibandingkan dengan tahun lalu kalau awal Ramadan gini baru 100 parcel yang dipesan. Ramainya tahun kemarin lebaran kurang dua minggu,” terangnya.
Pembeli rata-rata membeli parcel di tempat ini diharga Rp 1 juta, karena sudah lengkap, ada kipas angin yang didalam bingkisan parcel, selain makanan dan minuman ada juga piring dipatok dengan harga Rp 750 ribu.
Sedangkan untuk yang harga Rp 100 ribu ada makan dan sirup yang lumayan lengkap. “Paling banyak yang beli di bawah Rp 1 juta,” imbuhnya.
Selain itu banyak pembeli dari luar kota seperti dari Papua, Nganjuk, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Makassar.
Pembeli dari luar Surabaya bisanya membeli dengan jumlah banyak. “Kalau dalam kota (Surabaya, Red) membeli eceran. Biasanya satu atau tiga parcel gitu,” terangnya.
Harga dari tahun ke tahun sama, bahkan tahun lalu ada harga parcel yang mencapai Rp 4 juta. Selain itu pembeli juga bisa pesan sesuai dengan selera pemesan atau costum parcel.
Namun menurutnya pembeli yang seperti itu sangat jarang karena mereka lebih senang membeli parcel yang sudah ada.
Paling ramai pembelian menurutnya pad H-3 sampai H-1 menjelang lebaran. Biasanya mereka yang terutama di dalam kota membeli parcel di tempat tersebut.
“Tiga hari menjelang Idul Fitri tambah penuh biasanya. Bahkan sampai lebaran masih ada yang beli, tapi nggak seperti sebelum Idul Fitri,” terangnya.
Sementara itu, salah satu pembeli, Sugito mengaku telah memesan parcel tahun ini agar tidak kehabisan. Sehingga ia memilih lebih awal membeli.
“Ya karena tahun ini lebaran sepertinya lebih meriah, jadi daripada kehabisan mending saat ini saja pesan. Nanti mendekati lebaran baru dikirim ke saudara maupun kerabat,” ujar Sugito.
Memang parcel dicari menjelang Ramadan, bahkan omzet penjualan parcel diprediksi bisa mencapai miliaran rupiah. (rmt/nur)







