Polisi sampai Tambah Pasukan Cegah Gesekan

Gagalkan Panen Massal, Jaga Ketat Lahan Sengketa

sengketa perkebunan
DIJAGA KETAT: Aparat kepolisian menjaga ketat lahan perkebunan sawit di Desa Pelantaran, Selasa (14/3). Lahan tersebut bersengketa antara Alpin Laurence dan Hok Kim dan kini ditetapkan berstatus quo sampai ada putusan pengadilan. (IST/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Sengketa perkebunan antara Alpin Laurence dan Hok Kim di Desa Pelantaran, Kecamatan Cempaga, kembali memanas. Sekelompok orang di areal kebun yang bersengketa tersebut, berupaya melakukan panen massal. Aksi mereka dihentikan aparat kepolisian yang berjaga di lahan yang ditetapkan berstatus quo tersebut.

Informasi dihimpun, massa sempat berupaya merangsek masuk. Sejumlah orang perwakilan massa sempat adu argumen dengan aparat di lokasi. Mereka mengaku ingin panen atas suruhan anak buah Alpin Laurence. Lahan tersebut berstatus quo sampai ada putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap.

Bacaan Lainnya

Tanpa menghiraukan petugas yang berjaga di pintu masuk kebun, massa sempat bergerak mengambil buah sawit. Namun, polisi langsung bertindak dan memberi penegasan, akan menindak siapa pun yang melakukan kegiatan di lokasi tersebut.

Ancaman aparat efektif. Puluhan massa menarik diri dari kebun itu dan meninggalkan buah yang mulai ditumpuk di jalan produksi kebun tersebut. Guna menghindari konflik lantaran kubu Hok Kim juga berencana menurunkan massa, akhirnya polisi menurunkan kekuatan lebih besar dari Polres Kotim dan Brimob. Penjagaan ketat dilakukan hingga tadi malam oleh aparat bersenjata lengkap.

”Tadi sempat tidak dihiraukan pengamanan di sini. Katanya mereka disuruh juga dengan membawa dua truk masuk lokasi. Yang menyuruh itu tadi salah satunya adalah orang yang ada di sekitar desa,” kata seorang anggota pengamanan yang bertugas.

Kepala Desa Pelantaran Elisnedi menegaskan, konflik antara Alpin Laurence dan Hok Kim di wilayah desanya jangan sampai menimbulkan persoalan dan gangguan keamanan desa.

”Persoalan itu bukan dengan masyarakat, tetapi antara mereka sesama saudara. Jadi, tidak ada hubungannya dengan warga desa,” tegas Elisnedi.

Dia mengimbau warganya agar tidak latah ikut-ikutan melibatan diri dalam konflik tersebut. Elisnedi juga membantah konflik tersebut terjadi dengan masyarakat Pelantaran.

”Jangan karena sampai masalah ini, masyarakat yang satu dengan yang lain diadu domba. Itu konflik mereka pribadi saja. Apalagi ini sudah menempuh jalur hukum, semuanya jadi tinggal menunggu itu saja lagi,” ujarnya.

Elisnedi mendukung upaya kepolisian mengamankan wilayah tersebut dari konflik. Dia memang mendengar kerap mendengar nyaris terjadi gesekan dan benturan fisik di lapangan. Namun, anehnya justru banyak pihak luar yang ikut masuk dan saling bertikai di wilayah desanya itu.

”Warga kami jangan ikut-ikutan. Silakan merek selesaikan. Siapa pun yang menang di pengadilan nanti, itu yang kami dukung,” ujarnya.

Catatan Radar Sampit, konflik tersebut merupakan ”perang” saudara. Hok Kim merupakan adik sepupu Alpin Laurence. Harta berupa perkebunan kelapa sawit seluas 700 hektare merusak hubungan kekerabatan tersebut.

Konflik berawal dari  penggarapan kebun sawit yang lahannya dibeli dari dua kelompok tani di Desa Pelantaran. Menurut versi Alpin Laurence, empat pemodal, yakni Yansen, Sujatmiko, dan Wahyu Daeny (eks Kapolda Sumatera Barat) sepakat membangun kebun sawit. Mereka membebaskan lahan itu tahun 2007. Hok Kim ketika itu berperan sebagai tangan kanan untuk mengelolanya.

Penjelasan Alpin dibantah Hok Kim. Menurutnya, modal yang telah dikeluarkan Alpin cs telah dibayarkan olehnya beserta keuntungan. Nominal yang dia setor sudah mencapai puluhan miliar rupiah.

Konflik dua kubu terus memanas hingga sempat terjadi upaya saling menduduki lahan. Keduanya memiliki massa yang sama-sama banyak. Informasinya, sebagian besar massa sengaja didatangkan dari luar daerah. (ang/ign)

Pos terkait