Sementara itu, di tengah pro kontra sebelum rapat tersebut, Pastur Paroki Santo Joan Don Bosco Sampit RP Yohanes Kopong Tuan mengaku menerima ancaman misterius di media sosial yang tak diketahuinya pasti siapa pemilik akunnya.
“Apabila kegiatan tersebut tidak dilaksanakan di Taman Kota Sampit maka akan rusuh,” ungkapnya.
“Kami tegaskan, bahwa yang kami tolak bukan kegiatan roadrace, tapi tempatnya yang kami tidak setuju. Kita seharusnya berpegang teguh pada surat edaran yang dikeluarkan bupati yang tidak memperbolehkan kegiatan berskala besar di Taman Kota Sampit,” ujarnya.
Yohanes mengatakan, panitia menjanjikan akan memberikan akses keluar masuk untuk jemaat ataupun pasien Klinik Obor Terapung. Namun sering fakta di lapangan tidak sesuai harapannya.
“Janji panitia itu tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Bahkan, ada penonton yang sampai memanjat pagar, apakah panitia bisa menjaga dan menjamin keamanan gereja dan klinik yang ada di sekitar areal Taman Kota Sampit,” paparnya.
Salah satu jemaat gereja juga mengatakan bahwa pelaksanaan road race telah dilaksanakan sejak 1997 dan tidak ada protes atau penolakan dari warga setempat.
“Apakah karena road race itu sudah dilaksanakan sejak tahun 1997 lalu terkesan membenarkan hal yang salah. Nanti tahun depan nego lagi. Apakah Pemkab Kotim tidak mampu menyediakan road race, kenapa tidak concern membenahi road race di Jenderal Sudirman KM 6. Saya harapkan ada langkah maju untuk perubahan yang lebih baik, bukan membenarkan hal yang salah,” urainya lagi.
Penolakan itu pun direspon Ketua Panitia Gubenur Motor Prix Open Race Hendra Tambang. Ia mengatakan, ajang balap motor ini tidak hanya hiburan tetapi untuk menjaring atlet muda yang akan diseleksi mewakili Kotim dalam ajang Porprov di Pangkalan Bun tahun 2026.
“Kenapa dilaksanakan di Taman Kota Sampit, karena cuma taman kota yang paling representatif. Dan, pelaksanaan road race sudah sejak tahun 1997 diselenggarakan di Taman Kota Sampit,” kata Hendra Tambang.
Ia menegaskan, pihak panitia juga sudah berupaya berkoordinasi dengan pihak gereja dan Klinik Terapung untuk mencari solusi agar kegiatan itu bisa terlaksana.







