RSUD Murjani Sampit Habiskan 11 Ribu Liter Solar, Bupati Kotim Tegaskan Pemadaman Parah Jangan Terulang

pengendalian inflasi bupati kotim
SAMBUTAN: Bupati Kotim Halikinnor memberikan sambutan pada kegiatan pasar murah dalam rangka pengendalian inflasi pangan yang digelar di Kecamatan Baamang, belum lama tadi. (DOK.YUNI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Pemadaman listrik selama dua hari yang terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur berdampak sangat luas. Selain menghambat aktivitas masyarakat, daerah juga sangat dirugikan dengan kejadian itu. Kejadian serupa diharapkan tak lagi terulang. PLN diminta melakukan antisipasi melalui pemeliharaan rutin.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, listrik yang padam berpengaruh terhadap suplai air kebutuhan rumah tangga. PDAM tak bisa mengalirkan air, karena memerlukan pasokan listrik.

Bacaan Lainnya

Selain itu, lanjutnya, RSUD dr Murjani Sampit harus mengeluarkan biaya besar untuk operasional generator set (genset) sebagai pengganti pasokan listrik PLN. Dalam satu jam, kebutuhan bahan bakar minyak yang dihabiskan sekitar 250 liter solar. Artinya, selama 45 jam padam, total solar yang dihabiskan mencapai 11.250 liter.

”Biayanya cukup besar,” kata Halikinnor.

Halikinnor berharap kejadian serupa tak lagi terulang. PLN bersama timnya harus bisa mengantisipasi sejak awal kejadian tersebut. Artinya, jalur saluran udara tegangan tinggi (SUTT) hendaknya dipelihara dan diawasi secara berkala.

Baca Juga :  Jalur Udara Mulai Padat, Aktivitas Bandara Melonjak

”PLN yang bertanggung jawab harus antisipasi awal. Jaringan SUTT ini jangan sampai lagi terulang seperti ini. Kita ketahui ada kendala alam dan sebagainya. Dengan padam dua hari, sangat berpengaruh sekali, karena listrik ini kebutuhan vital,” tegas Halikinnor.

Meski demikian, Halikinnor tak mau saling menyalahkan dalam persoalan itu. Persoalan tersebut hendaknya jadi pembelajaran bagi PLN. ”Dampak dan kerugian kita banyak. Tapi kami juga tidak serta merta menyalahkan PLN. Namun, ini jadi pelajaran ke depannya dan kita semua supaya betul-betul menjaga dan antisipasi hal itu,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, pemadaman listrik total di Sampit dan sekitarnya selama dua hari mencatat rekor paling buruk yang pernah terjadi di Kalteng. Anggota DPRD Kotim Dadang H Syamsu mengatakan, selama 40 jam lebih warga menderita akibat buruknya kinerja PLN. Masalah tersebut tak akan terjadi apabila pemeliharaan dan pencegahan dari pihak penyedia listrik dilakukan sejak awal dan aktif melakukan pengawasan di lapangan.

Pos terkait