Para peternak tidak melakukan pembibitan pada H-3 Lebaran sampai H+7 Lebaran Idulfitri 1444 Hijriah. Kondisi tersebut berimbas pada ketersedian stok ayam saat ini.
HENY, Sampit
Selama sepekan terakhir harga ayam potong broiler di pasar tradisonal Kota Sampit mengalami kenaikan hingga Rp 53 ribu. Bahkan, kabarnya harga ayam di Kotawaringin Barat dan Lamandau mencapai Rp 70 ribu per kilogram.
Radarsampit.com menelusuri penyebab naiknya harga ayam yang begitu melonjak. Sejumlah pedagang di pasar tradisional Kota Sampit menyebut kenaikan harga ayam potong disebabkan karena stok ayam terbatas dan ayam banyak yang mati karena panasnya suhu udara di Kalimantan Tengah dalam beberapa pekan terakhir.
Peternak ayam di Kota Sampit Mahfuddin membenarkan ketersediaan stok yang terbatas. Hal itu dikarenakan para peternak lokal tidak melakukan pembibitan pada H-3 Lebaran sampai H+7 Lebaran Idulfitri 1444 Hijriah. Hal itu berimbas pada ketersedian stok ayam lokal pada 35 hari berikutnya.
“Stok ayam saat ini enggak banyak, saat Lebaran para peternak ayam lokal tidak melakukan pembibitan karena merayakan Lebaran, kandang kosong. Jadi, imbasnya satu bulan ke depan saat waktu panen, hasilnya tidak banyak, stoknya terbatas dan harganya otomatis naik,” kata Mahfuddin saat diwawancarai di kandang ayam, Jalan Sawit Raya Ujung.
Saat ini ketersediaan stok ayam miliknya hanya 10.000 ekor yang tersebar di Kota Sampit. Sementara kebutuhan ayam potong di Sampit mencapai 15.000 ekor per hari.
“Dari pembibitan sampai layak panen dengan bobot standar 1,95 kg-2 kg membutuhkan waktu 35-40 hari. Pembibitannya biasanya 100.000 ekor per minggu, tergantung kesiapan kandang. Siklus itu harus rutin, tidak boleh terputus agar ayam bisa siap panen dan stoknya tersedia,” ujarnya.
Mahfud mengelola lima lokasi kandang di Bagendang, Kotabesi, Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 6 dan Kilometer 8. Selain itu, dia juga menjalin kemitraan dengan 50 kandang ayam yang tersebar di Kota Sampit. Radarsampit.com juga mengunjungi langsung ke lokasi kandang peternakan ayam broiler berukuran 8 meter x 40 meter berkapasitas 3.000 ekor dan kandang lain yang berkapasitas hingga 10.000 ribu ekor.
“Ayam yang di sini (Kandang Jalan Sawit Raya) masih berumur lima hari, kandang-kandang lain sudah panen, stoknya tinggal 10.000 ekor yang ada di kandang di Bagendang. Karena stoknya menipis, sehari dipanen 2.000-3.000 ekor per hari untuk memenuhi kebutuhan permintaan pasar selama sepekan ke depan. Estimasi saya untuk seluruh kandang milik peternak lain yang siap pasok ke pasar hanya sekitar 6.000-7.000 ekor per hari, jadi masih kurang dibandingkan kebutuhan pasar yang mencapai 15.000 ekor per hari,” kata pria yang juga menjadi petugas penyuluh lapangan yang bertanggungjawab terhadap 50.000 ekor (1 populasi ayam) di Kota Sampit.
Meski demikian, pasokan ayam potong yang dijual oleh pedagang di Pasar Tradisional Kota Sampit dan sejumlah kabupaten di wilayah Kalteng tak hanya didatangkan dari peternak lokal, tetapi juga dari Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan.
“Harga pengambilan ayam dari peternak asal Batulicin itu selisihnya sedikit lebih murah dibandingkan harga dari peternak lokal. Dari tahun 2022-April 2023 harga ayam potong di tingkat peternak lokal berkisar Rp 20-21 ribu per kg dan saat ini harganya naik Rp 23 ribu per kg. Harga ini memang lebih mahal dibandingkan harga ayam dari Banjarmasin,” ujarnya.
Kenaikan harga ayam di pasaran justru memberikan keuntungan bagi para peternak lokal. Pasalnya, harga ayam potong mengikuti harga pasar. Pada kondisi normal, harga di tingkat peternak di kisaran Rp 20 ribu – Rp 21 ribu per kg. Saat harga mengalami kenaikan, di tingkat peternak lokal naik Rp 23 ribu per kg.








