Trans Kalimantan Tersendat, Puluhan Hektare Sawah Terendam

Petugas Polsek dan Koramil Pangkalan Banteng saat mengatur lalulintas di kawasan Jembatan Aliong (Semanggang).
KEBANJIRAN: Petugas Polsek dan Koramil Pangkalan Banteng saat mengatur lalulintas di kawasan Jembatan Aliong (Semanggang). (SLAMET/RADAR SAMPIT)

PANGKALAN BUN, RadarSampit.com – Puluhan hektare sawah di Desa Berambai Makmur dan Marga Mulya, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat, terendam banjir. Para petani terancam mengalami kesulitan karena padi siap panen terendam dan akan berisiko merusak gabah.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pangkalan Banteng Yatno mengungkapkan, sekitar sepuluh hektare lahan padi petani di Desa Berambai Makmur terendam banjir. Sebagian di antaranya roboh akibat tak mampu menahan genangan air.

Bacaan Lainnya

”Sebagian roboh dan terendam air. Ini berpotensi merusak hasil panen (gabah) dan bisa membuat beras yang dihasilkan tidak terlalu putih (bersih),” katanya, Kamis (30/6).

Pihaknya berharap hujan tidak kembali mengguyur agar genangan banjir tidak makin tinggi. ”Alhamdulillah, sore tadi genangan air sudah mulai surut. Besok (hari ini, Red) rencananya akan kami panen. Semoga tidak hujan, sehingga bisa langsung dijemur untuk mencegah kerusakan gabah,” harapnya.

Sementara itu, Petugas Penyuluh Lapangan BPP Pangkalan Banteng Choeri mengatakan, kawasan sawah di Marga Mulya masih tergolong aman, karena panen padi telah rampung dan saat ini sedang proses pengolahan tanah dan juga pembenihan.

”Sudah panen semua, tapi namanya musibah tetap saja mengganggu proses pertanian di kawasan itu. Semoga tidak hujan lagi dan segera surut agar proses pengolahan tanah dan pembenihan segera berlanjut,” katanya.

Sementara itu, banjir yang terjadi tidak hanya menenggelamkan sawah warga. Jalan Trans Kalimantan sekitar kilometer 60 Dusun Semanggang terendam sejak Kamis (30/6) subuh. Luapan Sungai Kumai setinggi lutut orang dewasa merendam kawasan Jembatan Aliong (Semanggang) memacetkan arus lalulintas antar kabupaten.

Antrean panjang lebih dari 200 meter terjadi dari sisi jalur Sampit dan juga sisi jalur Pangkalan Bun. Pengguna jalan terpaksa harus bergantian melintas karena genangan banjir berarus kuat dinilai sangat membahayakan.

”Para pengguna jalan kita minta bergantian, kita gunakan sistem buka tutup,” kata Kapolsek Pangkalan Banteng, Iptu Faisal Firman Gani.

Para pengendara diminta mengikuti instruksi petugas dari Polsek dan Koramil Pangkalan Banteng, serta relawan saat melintas agar tidak terperosok ke pinggir jalur aspal. ”Personel dan relawan menjadi penanda jalur aman yang bisa dilintasi. Kalau pagi hingga siang, sementara yang bisa lewat hanya kendaraan roda empat ke atas. Untuk motor sangat berbahaya, karena arus cukup deras,” jelasnya.

Kemudian, lanjutnya, menjelang Ashar, arus mulai melemah dan ketinggian air mulai berkurang. Saat itu kendaraan roda dua mulai diperbolehkan melintas dengan dibantu petugas di lapangan. ”Update terakhir, setelah Magrib ini air mulai surut dan sudah lebih aman untuk dilintasi, pengaturan lalu lintas juga lebih mudah dan telah mulai mampu mengurai antrean yang cukup panjang sejak pagi,” pungkasnya. (sla/ign)

Pos terkait