Ungkapan Rasa Syukur, PT Tapian Nadenggan Gelar Ritual Adat Manyanggar

ritual adat pt tapian nadenggan
RITUAL: Mamapas, sebagai salah satu rangkaian pada kegiatan ritual adat Manyanggar yang digelar PT Tapian Nadenggan, Rabu (23/11). (YUNI/RADAR SAMPIT)

Sementara itu, Ketua Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan Pusat Palangka Raya Walter S Penyang mengatakan, ritual Manyanggar digelar sebagai ucapan syukur atas apa yang dilakukan. Ritual keagamaan Hindu Kaharingan yang dilaksanakan menurut tradisi di wilayah setempat, juga untuk menjaga keharmonisan dengan alam lingkungan. Terutama menjalin hubungan yang harmonis dengan roh-roh leluhur.

”Sekaligus ucapan terima kasih kita kepada para leluhur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kesempatan yang diberikan kepada kita semua untuk beraktivitas di bumi, tempat hidup,” katanya.

Bacaan Lainnya

Dia berterima kasih karena PT Tapian Nadenggan telah menggelar kegiatan tersebut. Dengan begitu, secara tidak langsung perusahaan juga telah menjaga kearifan lokal dan turut menyosialisasikan kegiatan-kegiatan seperti ini.

”Kalau memang bisa, dilaksanakan rutin setiap tahun, sebagai ungkapan rasa bersyukur dari perusahaan itu akan lebih bagus lagi. Maka dari itu, kami menyarankan kepada perusahaan kalau bisa dilaksanakan setiap tahun,” katanya.

Baca Juga :  Perkebunan Diminta segera Bayar THR, Karyawan yang Mudik Jangan Diangkut Pakai Bak Terbuka

Dari kegiatan semacam itulah, kata Walter, sekaligus menjadi momentum yang dapat digunakan pimpinan perusahaan untuk bertemu karyawan dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi perkebunan.

”Dengan melaksanakan acara seperti ini, menyediakan makanan untuk masyarakat, ini juga sebagai ungkapan syukur perusahaan,” ujarnya.

Ritual Manyanggar diawali dengan menyediakan sesembahan yang dibutuhkan sesuai dengan kearifan lokal wilayah setempat. Sesembahan kemudian diletakkan di satu tempat yang telah disediakan yang dinamakan pasah atau tempat keramat.

”Pasah atau keramat ini dipergunakan untuk roh suci yang tidak kita lihat. Jadi tidak mengganggu kita beraktivitas di tempat lain. Itu nanti jadi tempat sakralnya,” terangnya.

Pos terkait