JAKARTA – Kementerian Kesehatan memprediksi puncak kasus Covid-19 varian omicron bisa lima kali kasus Covid-19 varian delta. Angka ini didapat berkaca dari kasus yang terjadi di luar negeri. Namun, jumlah kasus konfirmasi ini bukan menjadi patokan bagi pemerintah untuk menarik rem darurat. Pemerintah melihat jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit.
Hingga Rabu (26/1) 1988 pasien, terkonfirmasi terinfeksi varian omicron. Dari jumlah tersebut, 86 masih dirawat di rumah sakit dan yang pernah dan masih dirawat di ICU mencapai 59 orang. Mereka yang terpapar omicron ada yang belum vaksin hingga yang sudah booster. Ada juga yang mengidap komorbid.
”Yang sekarang di RS itu ada yang sebenarnya tidak perlu dirawat di RS,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, kemarin (27/1).
Budi menegaskan bahwa varian omicron memiliki ciri penularan yang cepat dan menyebabkan kasus semakin banyak. Di Indonesia juga demikian. Sehingga dalam waktu dekat, Budi memperkirakan akhir Februari sampai awal Maret, akan terjadi puncak kasus.
”Range (kasus konfirmasi varian omicron) satu sampai lima kali dari varian delta. Tapi ini tergantung disiplin protokol kesehatan, vaksinasi, dan tracing,” ucapnya.
Meskipun kasusnya bisa lebih tinggi dari varian delta, namun tingkat keparahan dan perawatan di rumah sakit akan lebih rendah. Rata-rata mereka yang terpapar omicron tidak menunjukkan gejala atau bergejala ringan seperti demam dan batuk.
”Tidak perlu dibawa ke rumah sakit. Dirawat di rumah sendiri,” kata Budi. Yang saturasi oksigennya di atas 95 bisa dirawat di rumah dan akan didampingi tenaga kesehatan melalui telemedicine.
Namun, dia memahami bahwa sebagian masyarakat masih trauma dengan varian delta yang menyebabkan angka kesakitan dan kematian tinggi. Untuk itu tetap dilakukan persiapan di tingkat fasilitas kesehatan.
Di Indonesia sudah disiapkan 80 ribu tempat tidur untuk perawatan Covid-19. Sementara yang terpakai sudah 7000 tempat tidur. Jika kasus konfirmasi semakin meningkat dan angka keparaan meningkat, jumlahnya bisa ditingkatkan hingga 130 ribu tempat tidur. Jumlah keterisian tempat tidur inilah yang akan menjadi perhatian pemerintah dalam menentukan kedaruratan dampak dari varian omicron.
Yang dikhawatirkannya adalah lansia. Sebab, 60 persen pasien yang terpapar omicron merupakan lansia. Di sisi lain angka vaksinasi lansia di beberapa daerah masih rendah. Untuk itu, Budi mendorong pemerintah daerah gencar vaksin lansia.
Vaksinasi menjadi salah satu senjata yang diandalkan pemerintah. Sejauh ini dari penelitian serologi yang dilakukan Universitas Indonesia bersama Kementerian Kesehatan menemukan 86,6 persen rakyat Indonesia sudah memiliki antibody. ”Artinya tubuh kita mengenali kalau ada virus ini masuk dan melawannya. Sehingga kecil fatality-nya,” ucap Budi.
Wakil Presiden Ma’ruf Amin merespon peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia beberapa hari terakhir. ’’Kita memang sudah memperkirakan bahwa memang Februari dan awal Maret itu akan terjadi peningkatan, melihat Omicron di seluruh dunia,’’ tuturnya saat kunjungan kerja di Kota Tangerang kemarin (27/1).
Meskipun begitu Ma’ruf menekankan bahwa pemerintah sudah mengantisipasinya. Sehingga kenaikan kasus Covid-19, khususnya varian Omicron, tidak eksponensial seperti di negara-negara lainnya. Diantara upayanya adalah pengetatan kembali penerapan protokol kesehatan, peningkatan tes dan telusur, serta percepatan vaksinasi Covid-19.
Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) menuturkan varian Omicron saat ini sudah menjadi tren global dan kasusnya masih terus tinggi. Untuk itu upaya antisipasi lainnya dari pemerintah adalah menerapkan karantina yang ketat untuk pelaku perjalanan luar negeri (PPLN). Kepada setiap PPLN, dilakukan pemeriksaan yang ketat dan karantina.








