Evaluasi Tekon Minta Ditinjau Ulang

Sejumlah Petugas Damkar Kecewa, Ada Yang Masuk ICU

Evaluasi Tekon Minta Ditinjau Ulang
Bupati Kotim Halikinnor ketika meninjau pelaksanaan tes evaluasi terhadap 2.700 tenaga kontrak pada 23 Juni 2022 lalu.(dok.Radar Sampit)

“Saat menerima kabar namanya enggak lulus, kawan kami sampai mengalami pendarahan,  hemoglobin (Hb) turun drastis. Beliau ini punya riwayat sakit ginjal. Sekarang masih dirawat di ruang ICU rumah sakit,” kata seorang  mantan tenaga kontrak yang bertugas di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kotim saat ditemui Radar Sampit, Sabtu (2/7).

Sebagai tenaga kontrak yang juga bernasib sama, tak lulus. Pria berinisial Iht ini mengaku tak habis pikir akan mengalami pemutusan kontrak kerja.

“Ini tidak hanya saya, ada ratusan tenaga kontrak yang mengalami nasib yang sama seperti saya. Saya sampai tidak habis pikir bagaimana sistem yang dipakai pemerintah dalam proses evaluasi ini. Bagaimana kita-kita yang sudah bekerja belasan tahun dinyatakan tidak lolos. Sedangkan, tenaga kontrak baru yang belum tahu pekerjaan,  bahkan belum menguasai tupoksi apalagi pengalaman saja belum tentu ada bisa diluluskan. Ini sistem evaluasi yang digunakan seperti apa ?,” ujarnya mempertanyakan.

Iht pun mengaku siap diadu kemampuan di lapangan dibandingkan dengan tenaga kontrak baru. “Kami ini sudah ditempa bertahun-tahun berkerja bertaruh nyawa. Risiko mati dihadapan mata. Kami tidak hanya bertugas menyelamatkan orang lain, tetapi juga menyelamatkan diri kami sendiri. Cari saja tenaga kontrak yang benar-benar siap terjun ke lapangan dan siap bertaruh nyawa menaklukan api. Itu tidak mudah, tapi dedikasi kami selama ini tidak dihargai.” Ujarnya lagi.

Baca Juga :  Bupati Ini Sampai Turun Tangan Carikan Oksigen untuk RSUD

Dari 73 tenaga kontrak di DPKP Kotim yang mengikuti tes seleksi ada 23 tenaga kontrak yang dinyatakan tidak lulus. Tiga diantaranya tenaga kontrak baru. Mereka belum tahu setelah resmi menjadi pengangguran akan menjadi seperti apa nasib berikutnya.Sebagian besar tenaga kontrak tidak lulus, tidak memiliki pekerjaan sampingan. Mereka menggantungkan hidup bekerja sebagai tenaga kontrak.

Pos terkait