Geliat Usaha Hidroponik, Manfaatkan Lahan Nganggur Jadi Produktif  

Kelihatannya Mudah, Tapi Tak Sedikit yang Menyerah

hidroponik lapas
BUDIDAYA: Warga binaan Lapas Sampit membudidayakan sayuran dengan cara hidroponik, Rabu (8/5/2024). (YUNI/RADAR SAMPIT)

Budidaya tanaman dengan sistem hidroponik terus menggeliat di Kota Sampit. Selain perorangan, institusi pemerintah juga mulai melirik pertanian modern ini. Ada Lapas Sampit, Kodim 1015 Sampit, Kantor Kesehatan Pelabuhan Sampit, Pelindo, Polres, hingga Polairud.

YUNI PRATIWI, Sampit | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

Lapas Sampit sudah empat kali memanen sayuran yang dibudidayakan di area belakang lingkungan lapas. Sayuran berupa selada dan samhong ditanam dan dirawat langsung oleh warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang didampingi oleh petugas lapas Sampit.  Hasil panen mendapatkan sambutan baik dari kafe maupun pengusaha kebab.

“Kami diminta dua atau tiga hari untuk menyediakan minimal 50 batang sayuran untuk satu tempat. Kalau untuk stan kebab 10 sampai 20 batang setiap hari,” ujar Wili, salah satu WBP yang dipercaya untuk menjalankan hidroponik di lapas.

Dirinya mengaku baru pertama kali mengelola budidaya tanaman dengan sistem hidroponik. Kemampuan membudidayakan sayuran dengan cara hidroponik tersebut diperoleh dari pembinaan yang dilakukan oleh petugas lapas.

Menurutnya, selama merawat sayuran dengan sistem hidroponik, tidak ada kesulitan yang berarti. Perawatan sayuran tersebut cukup mudah, yang cukup sulit hanya saat pembibitan.

“Kerjanya santai tidak perlu garap lahan. Paling yang ribet itu membibit, tapi kalau  sudah dipindah di netpot, pasti hidup,” terangnya.

Awal mula pemasaran dibantu oleh kerabatnya, yang juga membagikan ilmu untuk budidaya hidroponik tersebut.

“Ada kerabat yang berbagi ilmu ke saya. Saya diminta mengerjakan dan mereka yang memasarkan. Bahkan waktu istrinya masih kerja di rumah sakit, pakcoy masuk ke rumah sakit semua,” terangnya.

Dia menjual sayuran hidroponik tersebut sesuai dengan pesanan dari pelanggan. Jika sudah tidak ada pesanan, sayuran hidroponik tersebut dikonsumsi oleh warga lapas.

Baca Juga :  Ketika Tentara Ikut Berperan dalam Pembangunan di Kotim

“Kalau tidak ada orderan lagi,  baru untuk makanan tambahan lapas,” ucapnya.

Ada sekitar 20 pipa paralon untuk budidaya sayuran hidroponik di Lapas Sampit. Sekali panen menghasilkan 600 batang sayuran dengan jangka waktu panen untuk selada 40 hari, dan untuk pakcoy 35 hari.

“Saat ini lagi menyemai, kami upayakan ada rotasi, jadi setiap hari atau paling tidak setiap minggu ada panen,” tambahnya.

Benih sayuran biasa dipesan di Jawa atau beli di toko pertanian yang ada di Sampit. Ada lima nampan sebagai tempat untuk menyemai beni. Dalam satu nampan  sebanyak 450 benih yang disemai.

“Benih dijemur setiap hari dan disiram apabila sudah kering. Apabila sudah muncul daun sejati, maka bibit sudah bisa dipindahkan ke tempat hidroponik. Tapi kalau gagal biasanya kami lakukan sulam tanaman, biasanya berhasil, dan sudah bisa dipindahkan ke netpot,” tandasnya.

Untuk pembasmi hama, warga binaan memanfaatkan bahan alami. Seperti untuk pembasmi kutu pada selada, menggunakan tembakau. Sedangkan untuk ulat daun,  menggunakan rendaman air kulit bawang merah dengan cara menyemprotkannya pada tanaman.

Kepala Seksi Bimbingan Narapidana Anak Didik dan Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIB Sampit Saiful menjelaskan, media budidaya hidroponik menjadi salah satu program pembinaan kemandirian yang dikelola langsung oleh WBP dengan pengawasan petugas Lapas Sampit.

“Tidak hanya sebagai program pembinaan, budidaya sayuran dengan sistem hidroponik ini merupakan gagasan guna memanfaatkan lahan kosong di halaman  belakang Lapas Sampit untuk menjadikannya lahan produktif,” ujar Saiful.

Dirinya bersyukur kemandirian dari sektor pertanian yang dilakukan warga binaan Lapas Sampit mendapatkan respon yang baik dari pihak swasta. Pihaknya berharap perhatian yang sama juga bisa ditunjukkan oleh pemerintah daerah.

Pos terkait