Guyuran Politik Uang Tak Terkendali, Praktik Brutal Memburu Kursi Kekuasaan

ilustrasi politik uang
ilustrasi politik uang

SAMPIT, radarsampit.com – Pemilu 2024 tak lepas dari cengkraman permainan politik uang. Praktiknya kian liar dan brutal. Terang-terangan tanpa malu dan takut dipidanakan. Semua demi memburu kursi jabatan lima tahunan.

Sejumlah warga Kotim kepada Radar Sampit, Senin (12/2/2024), mengaku telah menerima uang dari caleg melalui tim suksesnya. Bahkan, pemilh dalam satu rumah bisa digempur uang oleh 3-4 orang caleg dengan jumlah bervariasi.

Bacaan Lainnya

”Saya tadi malam didatangi pak RT, diberi uang Rp300 ribu untuk memilik caleg sepaket DPRD Kotim dan Kalteng,” kata Tasman, warga Kecamatan MB Ketapang.

Sehari sebelumnya, dia juga telah menerima uang dari caleg DPRD Kotim sebesar Rp100 ribu. Uang itu diberikan setangan oleh tim sukses caleg.

”Pagi tadi (kemarin, red) datang lagi tim sukses yang juga keluarga memberikan uang Rp200 ribu. Untuk caleg kabupaten juga. Jadi, kalau dihitung-hitung, kami totalnya ada 3 caleg yang kasih uang dengan nominal Rp600 ribu,” katanya.

Baca Juga :  Ketika Warga Tak Mampu di Kotim Banyak Belum Masuk Program Pemerintah

Warga lainnya yang meminta namanya tak disebutkan mengatakan, kartu panggilan memilih jadi kartu sakti untuk mendapatkan uang. Dia didatangi tetangganya sendiri dan minta diperlihatkan kartu panggilan. Setelah dipastikan itu surat memilihnya, dia langsung menerima Rp150 ribu.

”Ada juga teman kirim WhatsApp, minta foto KTP dan nomor rekening. Tidak sampai satu jam, ditransfer Rp250 ribu untuk memilih caleg kabupaten dan provinsi,” katanya.

Saking bingungnya banyak yang memberi uang agar dipilih, dia sampai ada pikiran enggan datang ke TPS.

”Ada perasaan tidak enak juga kalau saya pilih salah satu. Kemarin mau ditolak uangnya gak enak juga sama keluarga. Nanti dibilang macam-macam, karena katanya uangnya akomodasi dari caleg supaya mencoblos ke TPS,” ujarnya.

Lain lagi dengan tim sukses salah satu caleg di dapil IV. Dia mengaku kecewa dengan caleg yang sudah lama dia sosialisasikan dan kenalkan, justru menjelang hari H caleg yang diandalkannya tidak merespons telepon dan pesan. Padahal, sebelumnya dia disuruh merekrut saksi dan pemantau.



Pos terkait