Jelang Iduladha, Ongkos Pengiriman Naik Harga Sapi Kurban Termurah Rp18 Juta

penjualan sapi kurban
HEWAN KURBAN: Penjualan sapi kurban di Jalan HM Arsyad, Sampit, Rabu (22/5/2024). (HENY/RADARSAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com –  Iduladha 1445 Hijrah kurang dari sebulan lagi. Pedagang hewan kurban di Kota Sampit mulai memasarkan jualannya.

Puluhan ekor sapi bewarna hitam dan coklat tua sudah bertengger di atas lahan kosong milik warga di Jalan HM Arsyad. Lahan seluas lima hektare itu disewa Daeng, pedagang hewan kurban seharga Rp 20 juta selama kurang lebih satu bulan.

Bacaan Lainnya

Daeng rela merogoh kocek tidak sedikit demi menyewa lahan di tempat yang cukup strategis berada persis di pinggir Jalan HM Arsyad dan mudah dijangkau dan terlihat jelas oleh setiap pengendara yang melintas.

Sudah 10 hari ini, Daeng membiarkan 280 ekor sapinya bertengger di lahan terbuka, hujan dan panas tanpa atap. Namun, hal itu tak jadi masalah bagi sapi asal Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan yang dikenal tangguh tahan di segala cuaca dan lebih nyaman beraktivitas di areal terbuka ketimbang di kandang tertutup.

“Sapi asal Sulawesi kuat saja di segala cuaca. Malam tadi hujan, tidak apa-apa. Sapi asal Sulawesi tidak mudah sakit, lebih gampang perawatannya. Kecuali, saat tiba saja ada sapi yang kelelahan karena perjalanan jauh,” kata Daeng saat ditemui Radar Sampit, Rabu (22/5/2024).

Tahun ini, Daeng mendatangkan sapi asal Sulawesi sebanyak 480 ekor. Jumlah ini dua kali lebih banyak dibandingkan tahun lalu yang hanya 250 ekor sapi.

“Tahun ini tinggi permintaan, saya datangkan sesuai estimasi permintaan pelanggan. Jadi, tahun ini pasokan sapi dipesan lebih banyak dibandingkan tahun laluTrip kedua minggu depan akan didatangkan lagi 150 ekor jadi total perkiraan penjualan sapi yang tersedia sebanyak 480 ekor tahun ini,” katanya.

Ratusan ekor sapi ini dikirim dari Bone melalui Pelabuhan Makassar menuju Pelabuhan Batulicin, Provinsi Kalimantan Selatan dan kemudian dilanjutkan perjalanan jalur darat dari Kecamatan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel menuju Provinsi Kalimantan Tengah hingga tiba di Kota Sampit.

“Ongkos kirim tahun ini mengalami kenaikan Rp 1 juta. Tahun lalu Rp 3,5 juta per ekor tahun ini Rp 4,5 juta per ekor, itu untuk biaya pengiriman Rp 2 juta ditambah mengurus surat jalan hewan ternak, surat keterangan kesehatan, vaksinnya sampai karantina selama 25 hari Rp 2,5 juta jadi total Rp 4,5 juta per ekor sapi,” ungkap Daeng.

Adapun harga jual sapi dijual di kisaran Rp 18 juta – Rp 65 juta per ekor tergantung bobot. Mulai dari bobot bersih daging 75 kilogram – 300 kg per kilogram per ekor.

“Bobot 75 kg harga jual Rp 18 juta, bobot 250 kg harga jual Rp 50 juta dan bobot 300 kg harga jual Rp 65 juta hanya ada satu ekor saja. Kecuali bobot dibawah 50 kg tersedia banyak,” katanya.

Di tahun ini, Daeng tak mendatangkan penjualan kambing. “Tahun lalu jual 16 ekor kambing. Risiko kematiannya tinggi, perawatannya ekstra perhatian. Hanya ambil untung untuk sapi sekitar Rp 500 ribu – Rp 1 juta, tapi tahun lalu 3 ekor kambing mati, untungnya kambing tipis, jadi tahun ini enggak jual dulu,” ujarnya yang menyebut sudah ada beberapa pelanggan yang DP Rp 1 juta per 10 ekor.

Selama kurang lebih sebulan, Daeng perlu mengeluarkan biaya Rp 500 ribu per ekor sapi untuk perawatan, ketersediaan makanan, hingga menggaji pekerja.

“Ada dua pondok disediakan disini untuk pekerja. Ada 18 orang, yang jaga gantian selama 24 jam. Selama jualan sapi sudah tiga kali ganti lokasi,  pertama di dekat Bundaran KB, setelah itu pindah depan kantor Disdukcapil dan beberapa tahun ini disini karena lahannya luas. Mencari rumputnya saja yang cukup jauh sampai ke Jalan HM Arsyad KM 17 sana, arah ke Bagendang,” kata Daeng yang sudah berdagang sapi selama sembilan tahun ini.

Pos terkait