Kebun Petani Kebanjiran, Pengeluaran Emak-Emak Membengkak

Jual sayur
TERDAMPAK: Pedagang sayur di Pasar Tradisional Sampit mengeluhkan tingginya harga jual sayur di tingkat petani, Kamis (26/5). (HENY/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, RadarSampit.com – Hujan yang terjadi sejak beberapa pekan terakhir membuat harga sayur mengalami kenaikan. Bahkan, sayur sawi dan bayam sempat kosong akibat lahan tanam petani mengalami kebanjiran.

Marsiah, pedagang sayur di Pasar Tradisional Sampit Jalan MT Haryono mengeluhkan selama sebulan terakhir pasokan sayur berkurang tidak melimpah seperti biasanya. Langkanya ketersediaan sayur sawi membuat petani dan pedagang terpaksa menaikan harga jual sawi.

Bacaan Lainnya

”Harga sayur kangkung dan bayam Rp 10 ribu per ikat, sawi Rp 35 ribu per ikat. Sudah sebulanan ini harga sayur naik karena lahan petani kebanjiran, sekarang saja sayur sawi kosong,” kata Marsiah, Kamis (26/5).

Dalam kondisi normal, harga sayur kangkung dan bayam dijual dikisaran Rp 3-4 ribu per ikat. Kini naik menjadi Rp 10 ribu per ikat. Sedangkan, sayur sawit dijual Rp8-10 ribu per ikat, kini naik menjadi Rp 35 ribu per ikat.

Tidak hanya kangkung, bayam dan sawit yang mengalami kenaikan, daun seledri isi lima ikat juga mengalami kenaikan dari Rp 25 ribu menjadi Rp 50 ribu per lima ikat besar. Sedangkan, daun kemangi tetap stabil diharga Rp 5 ribu per ikat.

”Sayur sawi sempat saya jual Rp 45 ribu per ikat, memang mahal betul. Mau bagaimana, barangnya kosong, petani gagal panen, lahan tanam kebanjiran, sekarang saja saya enggak jualan sawi, barangnya kosong,” katanya.

Biasanya, kata Marsiah, harga sayur kangkung dan bayam tak begitu berpengaruh apabila musim hujan. ”Kangkung biasanya tidak berpengaruh saat hujan, ini malah naik tiga kali lipat,” ujarnya.

Baca Juga :  Sembilan Ruas Jalan Lumpuh Total, Dua Pekan Warga Palangan Kebanjiran

Naiknya harga sayur secara langsung berimbas terhadap penjualan pedagang sayur. ”Penjualan ya jelas menurun drastis, orang saja kaget, saya tawarin harga sayur Rp 10 ribu, baru pegang sayurnya, banyak yang enggak jadi beli karena mahal,” ujarnya.

Selain itu, penjualannya pun tidak sebanyak hari-hari biasanya. Dalam sehari, Marsiah mampu menjual sekitar 200-300 ikat sayur kangkung dan bayam dan 50-100 ikat sayur sawi.

”Beberapa minggu ini hanya jual 30 ikat, tidak sampai 50 ikat,” ujarnya.

Hal yang sama juga dialami Agus pedagang sayur di Pasar Tradisional Jalan MT Haryono. Agus menjelaskan kenaikan harga sayur diakibatkan karena lahan petani terendam genangan banjir hingga berminggu-minggu yang membuat petani merugi karena gagal panen.

”Bukan kami ingin menjual mahal. Saya kasihan juga dengan pelanggan, tapi mau bagaimana lagi, harga jual dari petani ke pedagang saja sudah mahal,” kata Agus.

Agus mengaku sampai memohon dengan petani untuk ketersediaan sayur. ”Saya mohon-mohon ini ke petani supaya dapat sayur. Tadi sayur sawi cuma dapat sedikit. Kalau tidak ada sayur, apa yang mau saya jual,” ujarnya.

Demikian pula dengan komoditas lombok rawit juga terus berfluktuatif. Harga lombok dijual dikisaran Rp 65-70 ribu per kg. Harga ini mengalami kenaikan dibandingkan hari-hari sebelumnya diharga Rp 55-60 ribu per kg.

”Harga lombok naik turun, sudah biasa. Sekarang naik, bisa saja besok turun. Sekarang aja barangnya belum datang,” ucap Zuhriyah.

Sementara itu, untuk komoditas bawang putih dijual dengan harga Rp 25 ribu per kg dan bawang merah masih naik diharga Rp 38-40 ribu per kg. “Harga bawang merah sudah berbulan-bulan dari sebelum Ramadan lalu sudah naik, belum turun-turun (harganya),” tandasnya. (hgn/ign)

Pos terkait