Konsistensi Carolina Marin dan Pertautan dengan Indonesia

Di Cipayung Sempat Berniat Gabung Latihan Tunggal Putra

carolina marin
Pebulu tangkis tunggal Putri Spanyol Carolina Marin saat tampil pada turnamen Indonesia Open 2023 di Istora Senayan, Jakarta. HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS

Di usia yang telah 30 tahun, Carolina Marin masih bertahan di persaingan elite tunggal putri dunia dan bisa jadi ancaman di Olimpiade tahun depan. Dia terus merekomendasikan kepada para pemain senegaranya untuk menjajal latihan di Indonesia.

RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

DARI semua lawan latihannya di Pelatnas Cipayung, sebenarnya hanya Maria Febe Kusumastuti yang bisa mengalahkan Carolina Marin. Tapi, Sarwendah Kusumawardhani ingat benar bagaimana reaksi pebulu tangkis asal Spanyol itu atas kekalahan tersebut.

”Anaknya (Marin) ngambek haha. Ya begitu kalau pemain putri,” kenang Sarwendah yang ketika itu, Juli 2013, menjadi asisten pelatih tunggal putri di Pelatnas Cipayung, lantas tertawa.

Tapi, reaksi itu pula, menurut Sarwendah, yang menunjukkan kelebihan Marin yang membuatnya konsisten bertahan di lingkaran elite tunggal putri bulu tangkis dunia sampai kini: determinasi untuk tidak mau kalah. Itu ditunjang pula dengan kedisiplinan berlatih, kemauan belajar, dan keberanian di lapangan.

Ketika itu, Juli 2013, jelang Kejuaraan Dunia di Guangzhou, Marin yang baru berusia 20 tahun nebeng berlatih di Cipayung bersama rekan senegaranya, Beatriz Corrales. Peringkatnya baru 25 dunia saat itu, tapi sederet gelar telah direbutnya meski bukan dari turnamen level top-tier.

Jadilah finalis Indonesia Master 2023 itu berlatih bersama para tunggal putri Pelatnas Cipayung. Selain Febe, ada Lindaweni Fanetri, Aprilia Yuswandari, Bellaetrix Manuputty, Hera Desi Ana Rachmawati, dan Adriyanti Firdasari.

Kecuali Febe, tak ada yang bisa mengalahkan Marin. Sampai-sampai pebulu tangkis kelahiran Huelva, 15 Juni 1993, itu berniat untuk menyeberang ikut latihan tunggal putra Pelatnas Cipayung. ”Ya tentu kami tidak bisa mengikuti kemauannya kan,” kenang Sarwendah.

Marin menganggap kesempatan berlatih di Indonesia, dengan lawan-lawan tanding setara dan fasilitas pendukung mumpuni, telah memberi bekal berharga bagi kariernya. ”Banyak sekali yang bisa dikenang dari Indonesia. Banyak pemain bagus,” kata pemain dengan tipikal permainan menyerang itu kepada Jawa Pos seusai final Indonesia Open Minggu (18/6).

Sedikit banyak bekal dari Cipayung itu turut membuka pintu baginya meraih begitu banyak prestasi bergengsi. Emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 tentu puncaknya. Selain itu, kampiun di Kejuaraan Dunia 2014 (Kopenhagen), 2015 (Denmark), dan 2018 (Nanjing). Plus sederet titel turnamen superseries.

Dalam usianya yang telah menginjak 30 tahun kini, Marin juga masih bercokol di enam besar dunia, posisi yang jika berhasil dipertahankan otomatis akan memberinya tiket ke Olimpiade Paris tahun depan. Dia yang tertua di antara jajaran 10 besar dunia tunggal putri.

Semua partner latihannya dari era Cipayung dulu kini juga telah gantung raket, tanpa ada yang bisa meraih prestasi menonjol. ”Untuk mencari pemain seperti (Marin) itu tuh memang susah banget,” ujar Sarwendah.

Contoh terakhir konsistensi Marin itu juga bisa dilihat di Indonesia Open, turnamen kategori tertinggi: super 1000. Dia menembus final meski akhirnya kalah oleh pemain Tiongkok Chen Yufei.

”Saya puas dengan diri saya sendiri. Dan, tiga pertandingan terakhir saya pikir saya bermain dengan baik serta menunjukkan determinasi yang tinggi,” ucap Marin.

Di Jakarta, tempat segala kenangan manisnya bermula: Cipayung, gelar juara dunia. Tapi, di Jakarta juga mimpi buruk menghantui: di final Indonesia Masters pada Januari 2019, dia mengalami cedera parah pertama.

Dalam final melawan Saina Nehwal, anterior cruciate ligament (ACL) lutut kanannya robek. Pemulihan butuh waktu sangat lama. Melibatkan psikolog dan fisioterapis dalam proses yang bisa berlangsung hingga 10 jam tiap hari.

Pos terkait