Lima Kecamatan Merana Akibat Hujan Semalam

Dua Jembatan Putus dan Ratusan Rumah Kebanjiran

banjir
KEBANJIRAN: Banjir berdampak pada lima Kecamatan di Kotawaringin Barat di Kobar membuat lima kecamatan terdampak. Ratusan rumah terendam banjir salah satunya di Desa Sungai Hijau, Kecamatan Pangkalan Banteng dan menyebabkan dua jembatan putus.  (Slamet/Radar Pangkalan Bun)

Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang melanda Kabupaten Kotawaringin Barat ternyata bukan merupakan puncak musim hujan.

Kepala Stasiun Meteorologi Iskandar Kotawaringin Barat Aqil Ihsan mengatakan bahwa meski saat ini curah hujan tinggi, bukan berarti ini puncak musim hujan.

“Madden Julian Oscillation di kuadran tiga berkontribusi terhadap banyaknya jumlah curah hujan di wilayah kita. Ditambah lagi belokan angin dan konvergensi juga sering terjadi di wilayah kita sehingga pertumbuhan awan hujan cukup signifikan,” jelasnya.

Indeks Enso juga turut pengaruh pada cuaca ekstrem. Sehingga enso (la nina) masih signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini sebagai penyumbang curah hujan di wilayah Indonesia.

Kemudian cuaca ekstrem yang terjadi di Kobar ini berdasarkan hasil analisa anomali suhu permukaan laut di perairan Kalimantan Tengah bagian barat menunjukan adanya peningkatan suhu dibandingkan kondisi normalnya (1.0 – 2.0 Celcius).

Ditambah lagi, filter spasial Madden Julian Oscillation dan gelombang Kelvin terpantau aktif di lokasi kejadian serta adanya masa udara basah pada lapisan rendah hingga tinggi dengan nilai 70% – 90%. Kondisi ini dapat mendukung proses pertumbuhan awan konvektif di sekitar lokasi kejadian yang memicu peningkatan intensitas curah hujan.

Baca Juga :  PT KSO Penuhi Regulasi Ketenagakerjaan di Kabupaten Lamandau

“Kemudian berdasarkan analisa citra radar produk CMAX terdapat awan konvektif di sekitar lokasi kejadian,” ujarnya. (rin/sla)

Pos terkait