Pembudidaya Ikan di Kobar Keluhkan Mahalnya Harga Pakan

keramba apung
POTENSIAL: Keramba apung pembudidaya ikan di DAS Lamandau, Kelurahan Mendawai, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, belum lama ini. (ISTIMEWA/RADAR PANGKALAN BUN)

PANGKALAN BUN, radarsampit.com – Pembudidaya Ikan jaring apung di Sungai Arut dan simpang 3 Sungai Lamandau, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mengeluhkan harga pakan ikan yang melambung tinggi.

Kondisi tersebut membuat ratusan pembudidaya ikan di daerah aliran sungai terpanjang di Kabupaten Kobar itu mulai memikirkan pakan alternatif, untuk mensiasati mengurangi pemberian pakan pabrik untuk ikan peliharaan mereka.

Bacaan Lainnya

Salah seorang pembudidaya jaring ikan di Das Lamandau, Kelurahan Mendawai, Binsar mengaku, saat ini mereka sudah memikirkan pakan alternatif untuk mensiasati mahalnya harga pakan ikan pabrikan.

“Saat ini nyaris tidak mampu lagi menutupi untuk operasional, hasilnya sudah tipis, saya heran harga pakan ikan pabrikan terus naik, sementara harga jual ikan perkilogramnya tidak ada perubahan,” keluhnya, Rabu (18/10/2023).

Ia menjelaskan pembudidaya ikan jaring apung di Kabupaten Kotawaringin Barat menggunakan 2 jenis pakan, yaitu jenis pakan timbul dan pakan tenggelam.

Sebelum kenaikan harga pakan, untuk pakan timbul merk Inopa sebelumnya harganya Rp340 ribu persak, dan untuk pakan tenggelam ransum Rp475 ribu persak. Dan saat ini untuk jenis pakan timbul harganya sudah mencapai Rp 425 ribu persak, sedangkan untuk pakan tenggelam satu sak Rp600 ribu.

Baca Juga :  Bebas PCR dan Antigen Belum Kerek Jumlah Penumpang Pesawat

Sementara dengan 40 lobang keramba apung miliknya ia menghabiskan sekitar 6 sak pakan ikan, dan bila tebar padat bisa sampai 8 sak perharinya. Di sisi lain untuk keramba apung miliknya sistem pengisian bibit rata-rata dalam 1 bulan sebanyak 60 ribu ekor bibit ikan.

“Jadi sistem panen dalam 1 bulan rata-rata 2 kali panen kadang bisa sampai 4 kali panen, tidak menentu, untuk ikan nila hasil panen bisa sampai 1,5 ton sekali panen, belum termasuk panen ikan mas,” terangnya.

Mengingat pakan alternatif saat ini sulit didapatkan, maka mereka beralih membeli pakan ikan dengan kadar protein di bawah standar, seperti pakan timbul merk Satria dengan kadar protein 28 persen. “Untuk pakan tenggelam tetap merk Ransum kadar protein 30 persen agar dalam pembesaran ikan masih bisa berjalan normal,” imbuh Binsar.



Pos terkait