Hari kedua perjalanan di Kota Beijing, Cina, rombongan Kaltim Post grup mengunjungi sejumlah lokasi. Salah satunya Tembok Besar Cina, warisan sejarah dunia.
FAFAN RINALDY, Beijing | radarsampit.com
Pagi itu, udara dingin menyelimuti kota Beijing ketika rombongan Kaltim Post Group bersiap untuk memulai petualangan hari ketiga mereka. Suhu yang berkisar antara 0 hingga 5 derajat Celsius membuat sebagian peserta merapatkan jaket tebal.
Sebagian lainnya sibuk menyiapkan sarung tangan dan syal untuk melawan hawa dingin.
Meski dibekap cuaca lebih dingin dari kulkas, semangat tetap membara. Pasalnya, agenda rombongan pada Rabu (12/2), sangat dinanti-nantikan, yakni menjelajahi Tembok Besar Cina, melakukan photo stop di Bird’s Nest dan Water Cube, serta wisata kuliner menikmati hidangan legendaris Peking Duck Dinner.
Setelah sarapan di Ramada Beijing North Hotel, rombongan menaiki bus wisata yang sudah disiapkan sejak pagi.
Sebelum sampai ke lokasi tujuan utama, rombongan terlebih dulu diajak mengunjungi dua toko yang menjual berbagai obat tradisional khas Tiongkok.
Kami diperkenalkan berbagai jenis obat herbal yang dipercaya memiliki khasiat luar biasa, seperti Angkung—obat yang dikenal ampuh untuk mengatasi stroke dan menurunkan panas tinggi, serta berbagai salep herbal yang digunakan untuk meredakan nyeri otot dan sendi.
Selain itu, ada juga ramuan lain yang telah digunakan secara turun-temurun dalam pengobatan tradisional. Para pemandu dengan ramah menjelaskan manfaat dari masing-masing produk, membuat kami semakin memahami kekayaan warisan pengobatan tradisional Tiongkok.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Badaling Section, bagian Tembok Besar Cina yang terkenal dengan jalurnya yang lebih ramah wisatawan. Selama perjalanan yang memakan waktu satu jam lebih, peserta memanfaatkan waktu dengan berbagai cara.
Ada yang bercanda dan berbincang santai, ada yang sibuk memotret pemandangan Kota Beijing dari balik jendela bus. Sementara yang lain memilih untuk meregangkan kaki atau tidur sejenak agar tetap bugar saat mendaki nanti.
Sepanjang perjalanan, pemandu wisata memberikan penjelasan menarik tentang sejarah panjang Tambok Besar Cina. Dibangun pertama kali pada masa Dinasti Qin dan terus diperluas hingga era Dinasti Ming, tembok raksasa ini membentang sepanjang 8.551 kilometer.
Menjadikannya salah satu proyek konstruksi terbesar dalam sejarah manusia. Beberapa peserta tampak terpukau dengan cerita tersebut, sementara yang lain sibuk mencari informasi tambahan melalui ponsel, meski koneksi internet terkadang mengalami gangguan karena perbedaan infrastruktur telekomunikasi di Tiongkok.
***
Setibanya di Badaling Section, angin dingin dengan cuaca suhu 1 derajat menyambut rombongan yang mulai bersiap untuk mendaki.
Sebagian peserta tampak antusias, segera mengambil tongkat untuk membantu pendakian. Ada pula yang memilih menikmati suasana terlebih dahulu dengan mengambil foto di gerbang masuk.
Peserta mulai menaiki tangga batu yang curam dengan penuh semangat. Wajah-wajah ceria terlihat di antara peserta, meski beberapa mulai merasakan napas yang sedikit memburu akibat jalur pendakian yang menantang.
”Wah, ini benar-benar menguji stamina ya, tapi pemandangannya luar biasa!” celetuk salah satu peserta sambil mengabadikan momen dengan kamera.
Dari atas, pemandangan pegunungan yang diselimuti kabut tipis terlihat begitu dramatis, menciptakan latar belakang yang sempurna untuk foto-foto berkesan.
Di beberapa sudut, peserta yang sudah mencapai puncak lebih dahulu berpose, menandai pencapaian mereka dalam menaklukkan salah satu keajaiban dunia ini.








