Di Bird Paradise, Singapura, burung-burung dibiarkan beterbangan bebas dan berkembang biak secara alami tanpa intervensi. Para penguin juga mendapatkan suhu dan pencahayaan yang mirip pulau asal mereka di dekat Antartika.
ANY RUFAIDAH, Singapura | radarsampit.com
SINGAPURA jauh sekali dari kutub selatan. Tapi, di tempat konservasi burung mereka, bahkan penguin pun bisa mendapat area yang suhu dan pencahayaannya diatur sedemikian rupa hingga mirip pulau yang berdekatan dengan Antartika.
Bird Paradise, demikian nama tempat di Mandai Lake Road, Singapura, tersebut, memang bertema utama konservasi. Burung-burung dibiarkan bebas di habitat yang diatur semirip mungkin dengan tempat tinggal asli para penghuni di alam.
Dalam proses pembangunannya, tempat wisata yang baru buka dua bulan lalu itu juga tidak banyak memotong pohon yang sudah ada di lokasi. Mayoritas dipertahankan. Karena itu, banyak sekali pohon tinggi dengan akar merambat dan kuat yang bisa ditemukan di berbagai sudut taman yang jadi bagian dari Mandai Wildlife Group tersebut. Pohon-pohon itu sangat berperan untuk perkembangbiakan burung.
Misalnya, pohon nangka yang buahnya jadi bahan makanan burung. Atau pohon palem dan bambu yang dimanfaatkan burung Taveta weaver sebagai sarang.
Burung dengan bulu berwarna kuning itu mengambil sobekan daun palem untuk membikin sarang di batang pohon bambu. Sarang itu digunakan untuk menarik perhatian burung betina. Jika si betina suka, mereka menempati sarang berdua. Jika ogah, si jantan akan langsung menghancurkan sarang tersebut. Brutal banget.
Ratusan burung itu bisa bebas beterbangan tanpa khawatir hilang. Sebab, ada rangkaian kawat baja yang membentang di atas taman burung seluas 17 hektare tersebut. Ketinggiannya sekitar 25 meter dari permukaan. Saking tingginya, pengunjung tak menyadari keberadaannya. Tidak ada rasa terkungkung seperti di taman burung lazimnya.
Burung juga dibiarkan berkembang biak secara alami. ’’Tidak ada intervensi, kecuali ada telur yang jatuh atau dicuekin sama induknya,’’ terang Joven yang memandu saya pada Selasa (4/7).
Dia lantas menunjukkan air terjun buatan setinggi 20 meter yang terinspirasi San Juan Curi Waterfall di Kolombia. Bagian atas air terjun yang berada di zona Crimson Wetland itu didesain mirip bukit bebatuan dengan lubang-lubang yang tersebar acak. ’’Di lubang itu, biasanya burung macaw ngadem atau bikin sarang,’’ jelas Joven.
Total ada tiga air terjun di Bird Paradise. Selain di zona Crimson Wetland, ada satu lagi yang terletak di Orchid Garden. Di kawasan itu ada beberapa tanaman anggrek yang tertata indah. Pembuatannya terinspirasi Air Terjun Curug Orok di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Orchid Garden merupakan salah satu bagian untuk mengenang jika dulu lokasi Bird Paradise adalah kebun bunga anggrek.
Air terjun ketiga berada di area luar Bird Paradise hingga Mandai Wildlife West. Air terjun yang terinspirasi Madakaripura di Probolinggo, Jawa Timur, itu memberikan kesegaran bagi siapa saja yang hendak masuk ke Bird Paradise. Semua air yang digunakan merupakan air hujan yang ditampung.
Upaya hemat energi selaras dengan tujuan konservasi Bird Paradise. Untuk energi listriknya, sebagian disuplai dari solar panel yang berjejer di samping Bird Paradise. ’’Tahun depan targetnya full solar panel,’’ tegas Joven.
Ada 10 zona di Bird Paradise dengan lebih dari 300 spesies burung. Rata-rata dikelompokkan berdasar daerah asalnya. Misalnya, Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Latin. Mereka juga punya koleksi burung predator. Termasuk yang ukurannya besar seperti cinereous vulture yang jika sayapnya terbentang lebarnya bisa mencapai 3,1 meter.








