Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menjadi salah satu wilayah yang kerap jadi langganan kebakaran hutan dan lahan. Kemarau tahun ini, warga setempat bersiap mencegah dan bertempur dengan amukan api.
HENY, Sampit
Pemerintah tak bisa bekerja sendiri menangani karhutla. Masyarakat di lapangan jadi kunci dan ujung tombak pencegahan agar bencana asap tak terulang. Pemerintah Kecamatan Seranau membekali warga dengan pelatihan pencegahan dan penanganan karhutla.
”Kami mengharapkan dengan adanya pelatihan pencegahan dan teknis pemadaman karhutla ini, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Regu Siaga Api di Kecamatan Seranau dapat meningkatkan kapasitasnya, baik secara teori maupun teknisnya di lapangan,” kata Juliansyah, Camat Seranau, Selasa (6/6).
Dia menuturkan, Seranau memiliki MPA yang beranggotakan 10-20 orang di setiap desa dan kelurahan. Ada pula RPA yang merupakan binaan perusahaan yang ikut berperan menangani kasus kebakaran lahan.
Pelatihan yang digelar pihaknya dilaksanakan selama dua hari, pada 6-7 Juni. Adapun pihak yang diundang sebagai pemateri dari BMKG Stasiun Bandara Haji Asan Sampit, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Mentaya Tengah dan Seruyan Hilir Dinas Kehutanan Kalteng.
”Kegiatan ini tidak hanya untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat peduli api dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla, tetapi juga menyasar petani yang selama ini masih melakukan cara lama membuka lahan dengan cara membakar,” ujarnya.
Juliansyah menuturkan, sebagian besar permukaan tanah di Kotim merupakan kawasan gambut. Termasuk di Seranau. Daerah tersebut rawan karhutla. Apalagi dipicu kemunculan api yang umumnya disebabkan unsur kesengajaan.
”Mulai Januari-Juni ini sudah ada beberapa kali kejadian kebakaran lahan di Kampung Benyamuk, Kelurahan Mentaya Seberang, Desa Batuah, dan Desa Terantang. Ketiga wilayah ini termasuk rawan kebakaran yang setelah dilakukan pemeriksaan di lapangan, diduga karena unsur kesengajaan. Sasaran kami menyadarkan masyarakat, terutama petani di Seragam Jaya, Ganepo, Terantang, dan Mentaya Seberang agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan, Pemkab Kotim telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 23 Mei 2023 sampai 60 hari melalui Surat Instruksi Bupati Kotim.
”Melalui surat edaran dan instruksi bupati, semua pihak diharapkan bersama-sama menangani karhutla, baik itu pemerintah, pemilik perkebunan, petani, pihak swasta, khususnya masyarakat agar tidak membakar lahan dengan sengaja dengan alasan membuka lahan. Kami berharap masyarakat sadar dan waspada,” ujar Multazam.
BPBD Kotim telah melakukan pemetaan lokasi rawan karhutla yang kerap terjadi setiap musim kemarau tiba, di antaranya di Kecamatan Kotabesi, Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Seranau, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, dan Teluk Sampit. ”Wilayah selatan termasuk daerah yang rawan, karena sebagian permukaan tanahnya gambut,” ujarnya.
Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Konservasi Sumber Daya Alam KPPH Mentaya Selatan dan Seruyan Hilir Dinas Kehutanan Kalteng Wibisono menambahkan, melalui pelatihan itu diharapkan dapat mempererat keterlibatan semua unsur terkait dalam membangun kesadaran masyarakat pentingnya menjaga kawasan ekosistem hutan.
”Kami mengharapkan kesadaran masyarakat bersama menjaga lingkungan dan ekosistem, karena dampak dari kebakaran lahan dan hutan ini tidak hanya merusak hutan sebagai paru-paru dunia, tetapi juga sebagai penunjang kehidupan, kesehatan, dan ekonomi,” ujar Wibisono. (***/ign)








