Tak Mudah Lengserkan Ketua DPRD, Upaya Mosi Digembosi

Ancaman usulan mosi tak percaya dari lima fraksi di DPRD Kotim dinilai tak akan bisa semudah itu melengserkan Rinie Anderson dari jabatannya sebagai ketua
PERNYATAAN SIKAP: Penyampaian sikap terbuka lima fraksi di DPRD Kotim terkait surat penundaan kegiatan yang dikeluarkan Ketua DPRD Kotim. (RADO/RADAR SAMPIT)

SAMPIT – Ancaman usulan mosi tak percaya dari lima fraksi di DPRD Kotim dinilai tak akan bisa semudah itu melengserkan Rinie Anderson dari jabatannya sebagai ketua. Apalagi keputusan tersebut diambil dalam kondisi tidak normal, seperti kekisruhan internal lembaga yang terjadi saat ini.

’Tidak semudah itu menurunkan seseorang dari jabatan Ketua DPRD. Saya lihat kalau arahnya sudah ingin menurunkan jabatan seseorang itu, sudah tidak elok lagi. Keputusan Ketua DPRD menyurati Sekretariat Dewan patut diapresiasi, ketika urusan internal lembaga sedang kisruh seperti sekarang, sehingga perlu keputusan guna mengantisipasi persoalan di kemudian hari,” kata Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kotim Parimus, Rabu (2/3).

Bacaan Lainnya

Menurut pria yang pernah menjabat Wakil Ketua DPRD dua periode itu, seseorang bisa diberhentikan dari posisi ketua karena mengundurkan diri, meninggal dunia, dan diberhentikan karena tersangkut hukum. Kemudian, pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan penugasan partai politik.

Baca Juga :  Warisan Proyek Multiyears di Kotim Belum Selesai, Mantan Legislator Merasa Dibohongi

”Karena Ketua DPRD ini sifatnya penugasan partai, bukan dipilih anggota Dewan sebagaimana AKD. Mau berapa kali dimosi pun, ketika partai yang bersangkutan menyakini kadernya di jalan yang benar, tidak  ada gunanya. Prosesnya juga panjang. Tidak hanya modal tanda tangan begitu saja,” jelas Parimus.

Meski begitu, lanjutnya, mosi tak percaya bisa dijadikan sebagai alat politik untuk  menaikkan nilai tawar. Ketua DPRD tak perlu merisaukan penggalangan mosi tersebut. Hal itu tidak semudah yang dibayangkan dan direncanakan pihak yang  menginginkan  Rinie menanggalkan jabatannya dari kursi ketua yang masih menyisakan sekitar 2,5 tahun lagi.

Parimus menyesalkan munculnya penggalangan mosi. Menurutnya, pihak yang menggalang aksi demikian sudah mengalami kebuntuan politik, sehingga menempuh jalur yang tidak seharusnya dilakukan sesama anggota DPRD dalam satu lembaga.

Pos terkait