Begini Kerasnya Perjuangan Siswa Mengejar Matahari di Ujung Utara Kobar

Terjang Banjir dan Lumpur Menuju Sekolah

TERPAKSA: Siswa SMPN 2 Aruta menerjang kubangan lumpur dan air menuju sekolah mereka, belum lama ini. (IST/RADAR SAMPIT)

”Karena jalan sangat sulit ditembus, kami berangkat dari rumah pukul 05.00 WIB. Pakaian seragam serta sepatu, kami masukkan dalam tas agar tidak kotor dan kami kenakan kembali di tepi jalan,” kata Putra, pelajar SMPN 2 Aruta.

Saat hujan turun, mereka harus bahu-membahu saling dorong kendaraan yang terjebak lumpur. Para pelajar itu terpaksa menggunakan kendaraan roda dua. Selain jauhnya jarak rumah mereka ke sekolah, roda empat tidak mampu melewati ruas jalan tersebut.

Bacaan Lainnya

Rusaknya jalan tersebut sangat ironis, mengingat kawasan itu dikepung perusahaan besar swasta (PBS) perkebunan kelapa sawit dan tambang. Para investor tersebut terus mengeruk keuntungan dan membiarkan belasan kubangan sedalam 40 sentimeter dibiarkan menganga.

Para siswa berharap, pemerintah cepat menangani persoalan infrastruktur di wilayah itu, sehingga proses belajar mengajar tidak lagi terkendala. Apalagi Desa Sambi merupakan desa yang sarat sejarah pada masa merebut kemerdekaan, yakni titik mendaratnya penerjun payung pertama oleh Tentara Nasional Indonesia.

Kepala Sekolah SMPN 2 Arut Utara Florenstinus Kusnarto mengatakan, jalan sepanjang 21 kilometer tersebut merupakan jalan pembangunan prasarana pendukung desa tertinggal (P3DT).

”Para siswa ini harus menempuh waktu selama dua jam sebelum sampai sekolah dengan kondisi infrastruktur yang buruk,” katanya.

Mengingat kondisi tersebut, pihak sekolah memberikan kelonggaran dengan tidak menerapkan disiplin ketat seperti sekolah lain pada umumnya. (***/ign)

Pos terkait