SAMPIT – Banjir parah yang melanda Kalimantan Tengah tahun ini mempertegas semakin rusaknya lingkungan. Anggapan bahwa bencana itu disebabkan tingginya curah hujan, tak sesuai dengan arsip data kondisi cuaca. Ironisnya, banjir bisa lebih parah karena kerakusan penjahat lingkungan yang disinyalir terus membabat hutan.
Radar Sampit menelusuri data curah hujan selama rentang waktu 2017-2019 yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng serta pemberitaan terkait banjir pada waktu yang sama. Data tersebut lalu dikomparasikan dengan curah hujan pada September 2021, masa dengan curah hujan tinggi yang disebut jadi biang bencana.
Curah hujan tertinggi di Kotim tercatat pada April dan November 2018. Masing-masing menunjukkan angka 493,6 mm dan 443,7 mm. Lalu, pada Februari 2019 tercatat 449 mm. Angka tersebut masuk kategori tinggi jika mengacu tingkat kenormalan surah hujan, yakni normal 100-300 mm, tinggi 300-500 mm, dan sangat tinggi di atas 500 mm.
Pada periode itu, tingkat keparahan banjir yang terjadi tak mengkhawatirkan. Februari 2019, misalnya, dengan curah hujan paling tinggi, banjir lumayan parah terdeteksi terjadi di Desa Sungai Ubar Mandiri, Kecamatan Cempaga. Kedalaman air mencapai 1 – 1,5 meter. Akibat kejadian tersebut, sejumlah RT terendam banjir dengan total 155 KK.
Situasi bencana jauh berbeda pada September 2021. Dengan curah hujan yang tercatat hanya 274,44 mm pada 1-6 September, banjir menerjang delapan kecamatan di Kotim, terdiri dari 61 desa, 5.867 kepala keluarga, 11.754 jiwa, dan 5.875 unit rumah. Sejumlah pihak, termasuk aparatur pemerintahan menyebut, banjir 2021 merupakan terparah, karena lamanya banjir merendam rumah warga serta ketinggian air yang tak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Meski demikian, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandara Haji Asan Sampit Musuhanaya mengatakan, berdasarkan total curah hujan Agustus 2021 di titik pengamatan BMKG Kotim, jumlah curah hujan tercatat sebesar 388,7 mm atau 360 persen di atas rata-rata sejak tahun 1997- 2020 pada bulan yang sama.
”Curah hujan lebat ini dapat dipicu pertemuan gelombang-gelombang di atmosfer, yaitu gelombang Kelvin dan Rossby, sehingga memicu peningkatan curah hujan pada awal September 2021,” kata Musuhanaya, Selasa (14/9) lalu.
Peningkatan curah hujan diperkuat pula dengan data Outgoing Longwave Radiation (OLR), yaitu terdapat banyak tutupan awan selama periode Agustus hingga awal September 2021.
”Berdasarkan data grafik dari tahun 2002 – 2020 setiap bulan yang sama rata-ratanya, peningkatan curah hujan terjadi pada April dan Desember dan grafik menurun pada Agustus dan September. Namun, tahun ini cuaca mengalami perubahan begitu dinamis, di mana termasuk kategori menengah hingga tinggi dengan sifat hujan di atas normal,” katanya.
Hutan Rusak
Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Tengah (Kalteng), Dimas Novian Hartono mengatakan, bencana banjir parah tahun ini sebagian besar disebabkan kondisi lingkungan Kalteng yang rusak. Kerusakan hutan sangat mengkhawatirkan, bahkan bisa dikatakan parah sekali.
Dari 15,3 juta hektare luas wilayah Kalteng, sekitar 80 persen kawasan sudah dikuasai investasi. Dalam artian sudah memiliki perizinan, baik untuk pertambangan, industri kehutanan dan perkebunan kelapa sawit.
”Posisinya merata. Mulai dari wilayah hulu, tengah, hingga wilayah hilir, sudah ada semua perizinannya. Berdasarkan petanya, dapat dilihat sudah sangat parah sekali kerusakan hutan Kalteng, dalam artian sudah penuh perizinan,” katanya, Senin (13/9).








