Dari Lahan Terbuka ke Tempat Kurban: Perjalanan Sapi-Sapi Pilihan untuk Iduladha

Tak Selalu Untung, Risiko Tinggi Merugi hingga Ratusan Juta

Penjual Sapi Kurban
HADAPI RISIKO: Salah satu pedagang hewan kurban di Jalan HM Arsyad, Sabtu (17/5).HENY/RADAR SAMPIT

Penjualan hewan kurban mulai ramai menjelang Iduladha 1446 Hijriah. Tiga pekan sebelum Lebaran, permintaan terus meningkat.

HENY PUSNITA, Sampit | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

Ratusan ekor sapi dengan kulit cokelat tua kini tampak berkeliaran di sebuah lahan terbuka. Tak lagi terkurung dalam kandang, hewan-hewan tersebut sengaja dilepas agar tumbuh lebih sehat sebelum akhirnya dijual dengan harga yang bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Masrani, seorang peternak sekaligus penjual sapi di kawasan Jalan HM Arsyad, telah merawat sekitar 90 ekor sapi lokal yang siap dijual menjelang Iduladha. Sapi-sapi tersebut dibesarkannya sejak berusia sekitar 2,5 tahun di kampung halamannya, Desa Bapeang.

Profesi sebagai peternak sapi telah dijalani turun-temurun oleh keluarganya sejak era 1980-an. Namun, ia baru serius menekuni penjualan hewan kurban sejak 2016. Saat ini, sapi-sapi hasil penggemukan miliknya memiliki bobot daging bersih antara 75 hingga 120 kilogram dengan harga jual berkisar Rp18–25 juta.

“Dari dulu keluarga saya beternak sapi. Tapi mulai saya ikut menjualnya baru sekitar 2016, karena melihat permintaan setiap Iduladha sangat tinggi,” ujarnya kepada Radar Sampit, Sabtu (17/5).

Selain sapi lokal, Masrani juga mendatangkan hewan dari Makassar yang dikirim melalui Pelabuhan Barru ke Pelabuhan Batu Licin, Kalimantan Selatan, sebelum diangkut menggunakan truk ke Sampit.

“Baru saja datang 21 ekor minggu lalu, Selasa depan 58 ekor lagi menyusul, dan Jumat nanti sekitar 50 ekor akan tiba,” katanya.

Tahun ini, ia menargetkan menyediakan total 300 ekor sapi. Saat ini, sekitar 120 ekor sudah berada di lokasi. “Kondisi sapinya bagus-bagus, sehat semua. Tidak seperti tahun lalu yang sempat ada yang pincang,” ujarnya.

Sekitar 50 persen dari stok sapi sudah dipesan. Masrani menyebut kebanyakan pembeli memilih datang langsung ke lokasi untuk melihat kondisi fisik sapi sebelum memberikan uang muka. Beberapa pelanggan lama bahkan cukup memesan melalui telepon.

Ia menambahkan, tidak ada perlakuan khusus dalam merawat sapi. Sapi yang baru datang dari perjalanan jauh dibiarkan beristirahat sebelum diberi minum agar terhindar dari kembung.

“Sore baru boleh diberi minum kalau datangnya pagi. Kalau datang malam, pagi baru dikasih. Makannya cukup rumput saja,” terangnya.

Menurutnya, sapi jenis bali lebih tahan terhadap perubahan cuaca, sehingga tetap sehat meskipun dibiarkan di alam terbuka tanpa atap.

Masrani pun mengaku tidak terlalu menghadapi tantangan berat sebagai peternak. Jika ada sisa stok setelah Iduladha, ia cukup merawat kembali sapinya tanpa harus banting harga seperti pedagang musiman.

“Keunggulan peternak lokal ya itu, kalau tidak habis dijual ya dirawat lagi. Tidak seperti pedagang musiman yang biasanya banting harga agar cepat laku,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan para pembeli untuk memeriksa langsung kondisi sapi, memastikan usia minimal 2,5 tahun dan tidak cacat agar memenuhi syariat kurban.

Sapi Madura dan Limosin Juga Siap Meramaikan Pasar Kurban

Di kawasan Jalan Tjilik Riwut, Syamsul Bahri telah mempersiapkan 220 ekor sapi yang dikirim dari Madura. Ia juga menyediakan sapi jenis limosin berbobot 200-300 kg, 30 ekor di antaranya telah dipesan.

“Kamis nanti datang lagi 82 ekor dari Surabaya. Sampai saat ini sudah laku 190 ekor,” ujarnya.

Syamsul menargetkan penjualan lebih dari 300 ekor tahun ini, dengan kemungkinan menambah hingga 1.000 ekor jika ada permintaan dari institusi atau pejabat.

Penjualannya tersebar di enam titik untuk memudahkan akses pembeli. Harga sapi bervariasi: Rp22 juta untuk bobot 90–95 kg, Rp24 juta untuk 100–110 kg, Rp28 juta untuk 120–130 kg, dan Rp30–35 juta untuk sapi berbobot 150–160 kg. Untuk kambing, ia menyediakan 150 ekor dengan harga Rp4–5 juta.

Pos terkait