GAWAT!!! Kalteng di Ambang Krisis Ekologis

Kualitas Lingkungan Kian Memburuk, Bencana Bisa Semakin Parah

Banjir yang terus terjadi di Kalimantan Tengah menandakan semakin buruknya kualitas lingkungan.
BANJIR TERPARAH: Petugas mengevakuasi warga dari banjir yang melanda kawasan Jalan Mendawai, kompleks Pasar Kahayan Palangka Raya. (DODI/RADAR SAMPIT)

PALANGKA RAYA – Banjir yang terus terjadi di Kalimantan Tengah menandakan semakin buruknya kualitas lingkungan. Pemerintah harus lebih peka dengan kondisi sekarang. Bencana harus jadi indikator bahwa Kalteng saat ini sudah berada di ambang titik krisis ekologis.

”Pemerintah harusnya segera melakukan audit terhadap kondisi lingkungan di Kalteng, bukannya saling lempar tanggung jawab,” kata Direktur Eksekutif Walhi Kalteng Dimas Novian Hartono, Kamis (18/11).

Bacaan Lainnya

Pihaknya telah berulang kali mendorong pemerintah melakukan audit lingkungan atas berbagai bencana yang terjadi. Audit itu meliputi perizinan perusahaan yang menjalankan aktivitas eksploitasi sumber daya alam skala besar.

”Kami tetap mendorong pemerintah bisa segera mengeluarkan kebijakan yang menyentuh pokok persoalan, seperti banyaknya penguasaan lahan skala besar di Kalteng,” tuturnya.

Pihaknya mengapresiasi langkah pemerintah dan berbagai pihak yang tanggap memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir. Hanya saja, pemerintah tetap harus melihat pokok permasalahannya, sehingga penanganan banjir bisa lebih optimal.

Baca Juga :  Kerasnya Perjuangan Tenaga Kesehatan ketika Puskesmas Terendam

”Kami sangat mengapresiasi tindakan dari berbagai elemen masyarakat yang gencar memberikan bantuan sebagai sukarelawan kepada setiap korban banjir. Namun, masalah lingkungan yang menjadi pokok persoalan harus diperhatikan,” tegasnya.

Kepala Departemen Pendidikan dan Organisasi Walhi Kalteng Bayu Herinata menambahkan, kondisi lingkungan di Kalteng harus menjadi fokus utama pemerintah mengeluarkan kebijakan terkait pengelolaan sumber daya alam untuk pembangunan.

Menurut dia, bencana ekologis yang terus berulang, tidak terlepas dari penurunan kualitas lingkungan hidup. Seperti halnya deforestasi alih fungsi hutan dan gambut untuk proyek food estate di sejumlah kabupaten, menjadi salah satu faktor utamanya.

”Belum lagi pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit di sepanjang daerah aliran sungai besar di Kalteng yang terjadi dari hulu sampai hilir, berdampak pada memburuknya daya tampung dan daya dukung lingkungan. Inilah yang mestinya diperhatikan pemerintah,” katanya.

Pos terkait