Ini Penyebab Rice Milling Plant Akhirnya Dibangun di Kotim

padi
PELETAKAN BATU: Sekda Provinsi Kalteng Nuryakin saat tiba dilokasi pembangunan RMP di Desa Lampuyang Kecamatan Teluk Sampit Kotim, baru-baru tadi. (Dok. YUNI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com –  Dibangunnya pabrik beras atau rice milling plant rice to rice (RMP-RtoR) di  Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tak lepas dari peran Kotim sebagai penghasil beras di Kalteng.

Sekda Provinsi Kalteng Nuryakin mengatakan, salah satu jenis beras di Kalimantan Tengah yang namanya sudah dikenal yaitu Siam Epang dari Kotim. Beras ini justru ini diklaim oleh Kalimantan Selatan, karena pengemasannya di sana.

Bacaan Lainnya

”Kita tidak punya alat, tidak punya mesin yang bisa membuat kita ini berdaulat,” kata Nuryakin saat melakukan peletakan pertama langsung di Desa Lampuyang.

Apabila tempat penggilingan padi modern ini beroperasi, maka akan ada merek beras sendiri dari  Kotim. Disparitas antara beras dari petani dan harga jual di pasaran juga tidak terlalu jauh.

“Karena kalau kita perhitungkan padi atau beras yang diproduksi di luar daerah dikembalikan lagi ke Kalteng, jadinya mahal. Kami melihat kemarin dari harga Rp 17.000 dijual lagi ke kita bisa sampai Rp 18.000 – Rp 19.000, padahal asalnya Rp 17.000. Tapi nanti kalau diproduksi di sini tentunya tidak akan segitu harganya, karena tidak ada biaya angkut, tidak ada biaya transportasi,” tuturnya.

Baca Juga :  DPRD: Realisasi APBD Kotim tahun 2023 Lepas Target

Dirinya menitipkan RMP-RtoR di Desa Lampuyang kepada Pemkab Kotim. Penggilingan padi modern tersebut milik bersama yang diharapkan membawa kesejahteraan bagi petani.

“Kami titip dengan pemerintah daerah dan juga masyarakat, bahwa ini memiliki kita bersama, bahwa ini adalah milik  pemerintah yang harus kita kelola dengan baik dan mudah-mudahan ini menjadi keberkahan bagi kita,” tuturnya.

Lebih lanjut  Nuryakin mengatakan, mendekati Idulfitri 1445 Hijriah, sering terjadi inflasi  akibat kenaikan harga bahan pokok, sementara daya beli masyarakat turun.

“Tetapi kalau nanti harga beras itu tidak naik karena produksi melimpah, inflasi dapat ditekan, karena salah satu penyumbang inflasi di Palangka Raya dan Sampit itu salah satunya adalah beras. Kalau beras ini sudah bisa kita lakukan treatment, kita lakukan untuk bisa membantu stabilnya harga dan pasokan, tentunya ini akan membuat perekonomian kita lebih bagus,” ungkapnya.



Pos terkait