SAMPIT, radarsampit.com – Dibangunnya pabrik beras atau rice milling plant rice to rice (RMP-RtoR) di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tak lepas dari peran Kotim sebagai penghasil beras di Kalteng.
Sekda Provinsi Kalteng Nuryakin mengatakan, salah satu jenis beras di Kalimantan Tengah yang namanya sudah dikenal yaitu Siam Epang dari Kotim. Beras ini justru ini diklaim oleh Kalimantan Selatan, karena pengemasannya di sana.
”Kita tidak punya alat, tidak punya mesin yang bisa membuat kita ini berdaulat,” kata Nuryakin saat melakukan peletakan pertama langsung di Desa Lampuyang.
Apabila tempat penggilingan padi modern ini beroperasi, maka akan ada merek beras sendiri dari Kotim. Disparitas antara beras dari petani dan harga jual di pasaran juga tidak terlalu jauh.
“Karena kalau kita perhitungkan padi atau beras yang diproduksi di luar daerah dikembalikan lagi ke Kalteng, jadinya mahal. Kami melihat kemarin dari harga Rp 17.000 dijual lagi ke kita bisa sampai Rp 18.000 – Rp 19.000, padahal asalnya Rp 17.000. Tapi nanti kalau diproduksi di sini tentunya tidak akan segitu harganya, karena tidak ada biaya angkut, tidak ada biaya transportasi,” tuturnya.
Dirinya menitipkan RMP-RtoR di Desa Lampuyang kepada Pemkab Kotim. Penggilingan padi modern tersebut milik bersama yang diharapkan membawa kesejahteraan bagi petani.
“Kami titip dengan pemerintah daerah dan juga masyarakat, bahwa ini memiliki kita bersama, bahwa ini adalah milik pemerintah yang harus kita kelola dengan baik dan mudah-mudahan ini menjadi keberkahan bagi kita,” tuturnya.
Lebih lanjut Nuryakin mengatakan, mendekati Idulfitri 1445 Hijriah, sering terjadi inflasi akibat kenaikan harga bahan pokok, sementara daya beli masyarakat turun.
“Tetapi kalau nanti harga beras itu tidak naik karena produksi melimpah, inflasi dapat ditekan, karena salah satu penyumbang inflasi di Palangka Raya dan Sampit itu salah satunya adalah beras. Kalau beras ini sudah bisa kita lakukan treatment, kita lakukan untuk bisa membantu stabilnya harga dan pasokan, tentunya ini akan membuat perekonomian kita lebih bagus,” ungkapnya.
Nuryakin mengatakan, penggilingan padi modern ini merupakan terbosan pemprov agar Kalteng tidak tergantung dengan daerah lain. Dia berharap alat yang sangat canggih ini bisa dimaksimalkan. Jangan sampai alat yang seharusnya mendukung produksi petani ini justru membuat produksi para petani menurun.
“Kemarin panen yang biasanya sekitar 4 atau 5 ton, begitu diolah bisa sampai 6 sampai 7 ton. Kalaupun ada kesulitan, para petani bisa menyampaikannya kepada pemerintah daerah melalui kadis pertanian,” sebutnya.
Selain itu, Nuryakin juga tidak menginginkan jika para petani di wilayah ini terikat dengan tengkulak. Dia meminta apapun permasalahan yang dialami para petani agar disampaikan kepada dinas pertanian untuk dicarikan solusi.
“Jadi kesulitan pupuk, benih, alsintan dan lainnya, sampaikan ke dinas. Jangan sampai petani terjerat tengkulak. Kita harusnya menyiapkan kredit pemerintah, seperti dulu itu ada kredit usaha tani dari bank, sehingga petani tidak meminjam ke tengkulak,” katanya.
“Setelah kami lihat di Pulang Pisau dan Kapuas kenapa beras dan padi itu dijual ke distributor atau tengkulak, karena dari awal sudah dipinjami oleh para tengkulak. Mereka ini sudah dimodalin. Sebelum panen, hak itu sudah beralih ke distributor. Dan ini harusnya peran dari Bank Kalteng untuk bisa memaksimalkannya,” sambungnya.
Nuryakin meminta agar hal semacam ini dipikirkan bersama, sehingga jangan sampai para petani terjerat tengkulak. Jika sudah terjerat oleh tengkulak maka otomatis padinya diambil oleh para pemberi modal.








