SAMPIT – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Hatantiring Manggatang Utus di Desa Luwuk Bunter, Kecamatan Cempaga disebut satu-satunya BUMDes di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bahkan setingkat Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) yang memiliki kinerja baik dan tetap aktif hingga sekarang.
“BUMDes Hatantiring ini satu-satunya BUMDes di Kalteng yang bisa dikatakan berhasil mengembangkan usaha. Hanya saja seiring berjalannya waktu, banyak nasabah yang membutuhkan bantuan dana untuk keperluan usaha tidak dapat dibantu karena keterbatasan permodalan,” kata Ricky Chandra, Kepala Sub Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Tengah saat ditemui Radar Sampit, belum lama ini.
Ricky mengatakan, BUMDes Hatantiring sudah berstatus badan hukum yang bergerak di bidang usaha simpan-pinjam dengan nama Koperasi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Hatantiring Manggatang Utus.
Menurutnya, kegiatan usahanya memiliki ruang gerak setara bahkan lebih dari perseoran terbatas (PT). Dengan begitu, Koperasi bisa memiliki kegiatan usaha simpan pinjam yang mirip dengan perbankan, hanya saja koperasi tidak boleh mengadakan kegiatan selain daripada usaha simpan pinjam.
“Tugas OJK tidak hanya mengawasi kegiatan sektor jasa keuangan tetapi juga memberikan perlindungan konsumen, edukasi, pembinaan dan pelatihan termasuk kepada LKM,” ujarnya.
Disisi lain, dalam mengembangkan usaha LKM dibutuhkan peran pemerintah daerah dan perbankan khususnya untuk membantu sumber pendanaan.
“Dibentuknya LKM bukan hanya untuk memberi pinjaman kredit kepada msyarakat tetapi diharapkan juga memberikan pendampingan kepada masyarakat agar mandiri dalam mengembangkan usahanya, karena itu peran pemda dan perbankan sangat dibutuhkan untuk membantu sumber pendanaan untuk LKM yang selanjutnya dapat disalurkan untuk membantu masyarakat,” katanya.
Sementara, Ketua BUMDEs Hatantiring Manggatang Utus Glory Hokman Baron mengatakan selama pihaknya mendapatkan izin perluasan usaha setingkat Kabupaten Kotim oleh OJK pada Maret 2020 lalu, minat masyarakat untuk meminjam dana untuk keperluan modal usaha semakin banyak. Tidak hanya warga Desa Luwuk Bunter,tetapi juga desa dan kecamatan tetangga.
Namun sayangnya, cash flow yang terbatas membuat pemberian pinjaman kepada usaha mikro kecil menengah (UMKM) harus bergantian.
“Ada banyak masyarakat yang layak dibantu tetapi tidak bisa terbiayai, karena kekurangan modal. Kami berharap Pemkab Kotim dapat memaksimalkan penyertaan modal yang bersumber dari dana desa agar diperbesar, sehingga perekonomian perdesaan tumbuh dan lebih banyak lagi masyarakat yang terbantu dalam mengembangkan usahanya,” kata Glory H Baron, Jumat (1/10) lalu.
Dirinya yakin dengan besarnya penyertaan modal dari dana desa maka Pendapatan Asli Desa (PAD) juga akan mengalami peningkatan. Hal itu dibuktikannya, di tahun 2018 BUMDes Hatantiring Manggatang Utus mampu memberikan kontribusi terhadap PAD sebesar Rp 13.400.000, tahun 2019 meningkat Rp 27.680.000, di tahun 2020 lebih meningkat menjadi Rp 35 juta.
Kendati demikian, besarnya kontribusi BUMDes Hatantiring Manggatang Utus terhadap PAD tak sebanding dengan penyertaan modal dari dana desa. Justru, di tahun 2021 penyertaan modal yang bersumber dari dana desa untuk BUMDes Hatantiring dari Rp 116 juta di tahun 2020 turun menjadi Rp 57 juta di tahun 2021.
“Semakin besar penyertaan modal dari dana desa, semakin besar pula kontribusi kami untuk PAD. Tahun ini diperkiraan kontribusi BUMDes untuk PAD bisa mencapai Rp 50 juta. Namun, ditahun ini justru penyertaan modal turun menjadi Rp 57 juta dibanding tahun lalu. Rencananya, akan ada penambahan penyertaan modal lagi di tahun ini, tetapi saya pesimis sepertinya tidak sesuai harapan,” ujarnya.







